Thursday, July 13, 2017

The Jose Flash Review
Filosofi Kopi The Movie 2:
Ben & Jody


Sebagai salah satu negara penghasil sekaligus supplier kopi terbesar di dunia (nomor 4, menurut WorldAtlas), layak jika Indonesia mengangkatnya dalam sebuah karya audio-visual. Filosofi Kopi The Movie (FKTM) yang diangkat dari cerpen karya Dewi Lestari dan dirilis tahun 2015 lalu berhasil menjadikan ‘kopi’ tak hanya sebagai latar belakang kisah persahabatan dan asmara, tapi juga menjadikannya filosofi yang berhubungan erat dengan kehidupan manusia. Karena potensi pengembangan kisah yang cukup besar, Visinema selaku produsen mengadakan sayembara penulisan premise kelanjutan kisah Ben & Jody, dua karakter utamanya. Hasilnya kemudian ‘diracik’ oleh tim penulis naskah dari film pertamanya, Angga Dwimas Sasongko sendiri (yang juga merangkap sutradara dan produser eksekutif), Jenny Jusuf, ditambah M. Irfan Ramly yang pernah terlibat penulisan naskah Cahaya dari Timur: Beta Maluku dan Surat dari Praha, produksi Visinema juga. Duo karakter utamanya masih diisi oleh Chicco Jerikho dan Rio Dewanto, dengan penambahan Luna Maya, Nadine Alexandra, serta sederetan cameo yang turut menyemarakkan sekuel bertajuk Filosofi Kopi The Movie 2: Ben & Jody (B&J).

Melanjutkan ending FKTM, Filosofi Kopi menutup kedai fisiknya dan memilih berjualan keliling dengan mobil combi. Tujuannya, menyebarkan Filosofi Kopi seluas mungkin di seluruh penjuru Nusantara. Namun rupanya cara ini tak bisa memuaskan semua pihak ketika satu per satu kru mengundurkan diri karena urusan pribadi masing-masing. Ben pun berpikir sampai kapan mereka akan terus berkeliling.
Keduanya memutuskan untuk kembali membuka kedai fisik Filosofi Kopi. Karena kedai lama sudah dijual dengan harga jual kembali yang melambung, Ben dan Jody mencari investor untuk membuka kembali kedai Filosofi Kopi. Bahkan ekspansi yang lebih luas lagi.
Takdir mempertemukan mereka dengan Tarra, seorang wanita muda yang tertarik untuk berinvestasi sekaligus belajar tentang kopi lebih dalam. Diam-diam Ben menaruh hati padanya. Sebelum akhirnya dia menemukan fakta pahit tentang identitas Tarra.
Masih ditambah kehadiran Brie, barista muda yang serba presisi dalam hal takaran, yang mana jelas bertentangan dengan Ben yang lebih percaya insting dalam meracik kopi. Konflik-konflik yang dihadapi Ben ini pun mau tak mau mempengaruhi persahabatan yang sudah dijalinnya selama berpuluh-puluh tahun bersama Jody.
Jika FKTM pertama meletakkan pondasi tentang persahabatan, asmara, bisnis, passion, dan filosofi kopi yang punya kaitan erat dengan keduanya, maka B&J mengembangkan apa yang telah terbangun sejak awal. Konflik yang dihadirkan pun sebenarnya tetap sama, tapi tentu saja lebih kompleks, sebagaimana di kehidupan sehari-hari. Karakterisasi Ben dan Jody semakin dipertajam sehingga menjadikan konfliknya pun ikut meruncing. Naskah pun tak melupakan perubahan-perubahan yang juga selalu terjadi dalam hidup, bahkan ketika merasa sudah pada titik ideal. Ini jelas tergambar sejak awal film ketika impian tak bisa selamanya berlangsung. Ada saat dimana harus berkompromi dengan realita. Begitu pun soal asmara dan passion yang selalu bisa berubah-ubah dan datangnya tak bisa tertebak. Konsep ini secara konstan dihadirkan hingga akhir film yang memberikan konklusi, termasuk persahabatan Ben dan Jody yang tidak harus selamanya ‘together forever’. Tentu, ini pun merupakan representasi kedewasaan karakter-karakternya sekaligus pengembangan plot-nya. Filosofi Kopi tak lagi hanya sebuah filosofi semata, tapi juga tantangan untuk diterapkan karakter-karakternya di kehidupan nyata.
Terakhir, tak lupa pula B&J menyelipkan pilgrimage (ziarah) terhadap kopi, terutama Nusantara, sebagai latar-latar adegannya. Mulai Lampung (yang sudah pernah ditampilkan di film pertamanya), Toraja, Kopi Ujung a la Makassar, Kopi Joss a la Jogja, hingga Kopi Es Tak Kie di Jakarta. Menjadikan B&J semacam sebuah paket lengkap traveling kopi.
Konflik yang makin kompleks membuat B&J tak bisa mengalir sesederhana dan se-memorable FKTM. Tentu kenyamanan mengikuti plot dan duration-wise harus lebih diutamakan (ini nantinya juga berpengaruh pada jumlah show per hari dan perolehan jumlah penonton). Namun terlihat sekali upayanya untuk menjaga feel dan taste di tiap kesempatan tetap terjaga. Ini tentu berkat insting Angga dalam meng-create adegan-adegan bernyawa dengan balutan elemen-elemen pendukung yang menjadikannya jauh lebih ‘hidup’, terutama berkat musical score dari McAnderson yang tak hanya sekedar mengulangi dan melanjutkan score-score senada dari film pertama, tapi juga sedikit bereksperimen dalam penggunaan bunyi-bunyian, termasuk yang bernuansa etnik sebagaimana salah satu tema yang diusung B&J.
Melanjutkan peran dari film pertama, Chicco Jerikho dan Rio Dewanto masih tampil konsisten. Malahan terasa semakin solid dan tajam ketika dihadapkan pada momen yang lebih kompleks. Porsi Chicco sebagai Ben terasa paling menonjol, termasuk dibandingkan Rio sebagai Jody. Namun ketika dianalisis lebih jauh, karakter Jody pun punya peran yang tak kalah penting. Luna Maya sebagai Tarra dan Nadine Alexandra sebagai Brie pun menjadi pendukung yang tak kalah menonjolnya. Luna berkat pesona dan aura kebintangannya yang sama sekali tak pudar, ditambah performa akting dengan emosional natural yang dengan mudah mengundang simpati penonton, sementara Nadine lewat kemisteriusan karakter yang bikin penasaran dan in the end, charming.
Melissa Karim sebagai Cici dari Jody mendapatkan porsi yang bertambah, diikuti performa akting yang juga semakin bold sesuai kebutuhan karakternya. Sementara dukungan dari Ernest Prakasa, Tyo Pakusadewo, Dayu Wijanto, Landung Simatupang, Joko Anwar, Jenny Jusuf sendiri, Westny DJ, Aufa Assegaf (pernah tampil di Cahaya dari Timur: Beta Maluku), Muhammad Aga (barista asli), cukup memberikan impresi dan memorable. Tak lupa pula, Otig Pakis yang menyumbangkan momen paling emosional tanpa harus berdialog.
Sinematografi Robie Taswin menghadirkan shot-shot dan pergerakan kamera yang terasa lebih sinematis dan efektif dalam bercerita maupun ber-emosi dibandingkan film pertamanya. Sementara editing Teguh Raharjo cukup berhasil menjaga pace cerita dalam durasi yang pas, kendati secara keseluruhan kerap terasa bak fragmen-fragmen yang tak semenyatu dan semengalir FKTM. Artistik Benny Lauda makin detail dan beragam dengan melibatkan kekhasan tiap daerah yang ditampilkan. Tata kostum Anggia Kharisma pun terlihat makin ikonik, ditambah koleksi dari Luna Habit by Luna Maya yang selalu terlihat outstanding. Terakhir, salah satu komponen yang paling penting dalam keseluruhan kemasan FKTM; pemilihan soundtrack yang tak hanya faktor sound tapi juga lirik yang ‘nyambung’, seperti dari Robi Navicula, Banda Neira, FSTVLST, dan Leanna Rachel, along with McAnderson’s musical score.
Secara keseluruhan B&J memang terasa lebih ‘buru-buru’ dan tidak semenyatu pun semengalir FKTM pertama. Kompleksitas cerita dan kepentingan durasi mungkin menjadi faktornya. Namun bak kopi, ke-‘pekat’-annya dalam hal taste keseluruhan elemen yang terasa makin meningkat, teknis yang makin mumpuni, performa yang mengagumkan, serta kepiawaian Angga dalam membangun adegan-adegan ‘hidup’ dan ber-emosi, berhasil menutupinya. Toh, salah satu esensi film yang disampaikan adalah tentang kompromi, bukan? 
Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates