Monday, June 26, 2017

The Jose Flash Review
Sweet 20

Digdaya sinema Korea Selatan mau tak mau harus diakui sebagai salah satu yang terbesar di Asia. Tak hanya di pasar domestik tapi juga di seluruh Asia, bahkan tak sedikit yang mampu menembus pasar Amerika Serikat. ‘Invasi’ global ke negara-negara lain salah satunya dilakukan dengan ‘menjual’ right original content mereka sekaligus mendukung produksi versi remake-nya. Miss Granny (2014) menjadi proyek yang akhirnya menggurita. Di-remake di Cina, Jepang, Thailand, Vietnam, bahkan menyusul Hollywood dan Meksiko. Indonesia beruntung menjadi salah satu negara yang masuk ke dalam list CJ Entertainment selaku studio pemilik right-nya. Bekerja sama dengan StarVision Plus yang sangat berpengalaman memproduksi film-film box office lokal dengan kualitas yang rata-rata mumpuni, dipilihlah tajuk Sweet 20 yang dirasa paling pas mewakili. Naskah adaptasinya dipercayakan kepada Upi yang merangkap konsultan kreatif, sementara bangku sutradara dipegang oleh Ody C. Harahap yang sangat berpengalaman di genre drama-komedi keluarga, seperti Kapan Kawin? dan Me vs Mami. Aktris muda yang karirnya terus menanjak, Tatjana Saphira, didapuk di lini terdepan, didukung jajaran all-star lintas generasi, mulai generasi Slamet Rahardjo, Niniek L. Karim, dan Widyawati, generasi Lukman Sardi, Cut Mini, dan Tika Panggabean, sampai generasi Morgan Oey, Kevin Julio, dan Ardit Erwandha. Membidik libur Hari Raya Lebaran, Sweet 20 siap menghibur seluruh anggota keluarga, mulai generasi kakek-nenek hingga para cucu.

Lama menjanda, Fatma tinggal bersama putra satu-satunya, Aditya, yang berprofesi sebagai dosen, dan keluarganya; sang istri, Salma, dan kedua anaknya, Juna dan Luna, yang menjelang dewasa. Mesti sayang, kehadirannya menjadi tekanan terutama bagi Salma dan Luna. Kejadian demi kejadian di rumah yang makin meruncing membuatnya berpikir untuk meninggalkan rumah. Iseng-iseng ia masuk ke sebuah studio foto ‘magis’ untuk difoto seperti idolanya dulu, Mieke Wijaya. Ajaibnya, Fatma seketika kembali berfisik 50 tahun lebih muda. Sempat bingung, tapi akhirnya ia menganggapnya kesempatan untuk menikmati masa mudanya dan melakukan passion terbesarnya. Ia pun menyamar menjadi anak kos di rumah Hamzah yang sebenarnya selama ini menaruh hati padanya dan bergabung dengan band cucunya, The Anjas. Tak hanya mengubah image band tersebut menjadi makin bersinar, Fatma membuat Juna dan Alan, seorang produser musik di sebuah stasiun TV, jatuh hati. Sementara itu Aditya kalang kabut mencari keberadaan Fatma. Melihat itu semua, Fatma harus memilih menjalani kehidupan muda yang selama ini selalu ia idam-idamkan atau keluarga yang meski terganggu dengan kehadirannya tapi begitu menyayanginya.

Mempertahankan hampir keseluruhan plot dan elemen-elemen kisahnya yang memang sudah begitu solid dan ultimate sebagai sebuah sajian yang bisa dinikmati seluruh anggota keluarga, PR terbesar Sweet 20 lantas bagaimana membuat versi Indonesia-nya terasa begitu membumi bagi penonton lokal. Tak hanya soal bagaimana membuat plotnya beradaptasi secara relevan dengan kondisi sosial-budaya kita maupun drama-nya mampu terkoneksi secara emosional dengan penonton, tapi juga yang tak kalah penting, humor-humor yang lebih dekat dengan penonton kita. Good for them, naskah adaptasi yang dikerjakan oleh Upi berhasil mengemban tugas yang tak mudah itu dengan begitu baik. Lihat bagaimana ia menangkap berbagai fenomena-fenomena sosial di budaya kita. Terutama sekali sentilan konsepsi tentang rasa hormat terhadap kaum tetua yang kerap bersinggungan dengan batas-batas urusan rumah tangga anak di budaya Timur, generation gap, isu love-hate relationship antara mertua-menantu, parenting, hingga dunia pertelevisian kita yang disentil dengan begitu menggelitik tanpa harus berkesan lantang atau menyudutkan salah satu pihak. Ada momen-momen kontemplatif bagi setiap pihak, termasuk bagi kaum tetua, yang lebih mengedepankan hati ketimbang ego. Tentu yang tak kalah penting sebagai sebuah produk hiburan, adalah pilihan-pilihan dialog dan celetukan yang begitu detail dalam menunjukkan era generasi karakter-karakternya.

Naskah yang demikian rapi beradaptasi dengan versi aslinya masih didukung kepiawaian Ocay (nama panggilan sutradara Ody C. Harahap) dalam membangun adegan-adegan dramatis menjadi tepat sasaran emosi tanpa terkesan over-dramatic, maupun comedic timing yang juga tepat. Segala esensi-esensi yang disematkan sepanjang film, mulai tentang love-hate relationship terhadap sosok yang dituakan hingga pilihan antara keluarga atau long-time obsession, tersampaikan dengan sangat jelas pun terasa dengan emosi maksimal, tanpa kesan preachy atau menggurui. Malahan, penonton dari generasi manapun diajak untuk bersenang-senang, tertawa, bernyanyi (bahkan ada running text lirik lagu di nomor-nomor musikalnya!), sekaligus terharu bersama dengan hati yang cukup besar sepanjang film. 

Pemilihan jajaran cast yang berasal dari tiga generasi ini juga patut mendapatkan acungan jempol. Selain memang mewakili kepentingan-kepentingan karakter sekaligus era generasinya, performa-performa memukau mereka mendapatkan spot dan porsi yang tergolong seimbang. Tentu saja Tatjana Saphirw terasa paling menonjol lewat karakter Fatma muda atau Mieke yang mampu merepresentasikan karakter yang digambarkan oleh Niniek L. Karim dengan begitu luwes dan hidup. Ada sedikit inkonsistensi di beberapa momen dimana ia terlihat ‘kelepasan’ menjadi diri sendiri. Namun secara keseluruhan, ia tak sekedar mengimpersonasikan, tapi saya bisa melihat sosok Niniek ketika dibawakan oleh Tatjana. Chemistry yang dibangunnya bersama Lukman Sardi pun berhasil terasa sesuai kebutuhan. Slamet Rahardjo menjadi pencuri perhatian di lini berikutnya sebagai Hamzah, along with Widyawati Sophiaan yang membawakan sosok Rahayu berbeda dari tipikal peran yang lebih sering ia bawakan selama ini. 

Begitu juga dengan Morgan Oey, Kevin Julio, Cut Mini, Alexa Key, Tika Panggabean, Nina Kozok, Arditnerwandha, dan Tommy Limmm, yang secara berturut-turut cukup memorable sesuai porsi peran masing-masing. Sementara cameo dari Karina Nadila, Barry Prima, Rina Hassim, Rima Melati, Henky Solaiman, Joe P Project, Rudy Wowor, dan bintang muda yang mengisi peran kejutan di penghujung film pun memberikan kesan tersendiri. Benar-benar pilihan yang jitu dan tepat guna.

Di teknis, terlihat sekali desain produksi yang didukung tata artistik Vida Sylvia dan tata kostum Dara Asvia terlihat begitu menonjol, terutama dengan warna-warna vibrant dan kesan vintage yang membuat produksi keseluruhan film terasa stylish. Sinematografi Padri Nadeak mem-framing desain-desain produksi tersebut menjadi stand-out, ditambah camera work yang berhasil bercerita dan ber-komedi secara efektif. Editing Aline Jusria masih mempertahankan style editing produksi StarVision Plus yang begitu dinamis, hingga sering menghadirkan J-cut. Beberapa kali terasa terlalu cepat, tapi overall masih nyaman diikuti dan yang terpenting, pace alur cerita terjaga, termasuk untuk comedic moments yang termasuk krusial di sini. Sound mixing memanfaatkan fasilitas Dolby Surround 7.1 dengan cukup maksimal. Dengarkan detail pembagian kanal saat adegan di Dufan, misalnya. Terakhir, tak boleh melupakan tata musik Aghi Narottama yang semakin mewarnai dan menghidupkan keceriaan film. Termasuk aransemen ulang lagu-lagu legendaris seperti Payung Fantasi, Layu Sebelum Berkembang, Selayang Pandang, Bing, dan lagu baru, Meraih Asa, yang kesemuanya dibawakan oleh Tatjana sendiri (satu lagi alasan untuk lebih mengagumi Tatjana di film ini!).

Dengan nyaris semua departemen yang tergarap maksimal, StarVision Plus jelas terasa tak main-main dalam menggarap Sweet 20. Sebuah sajian kesolidan plot asli Miss Granny dengan rasa lokal yang membuatnya menjadi lebih dekat dengan penonton Indonesia. Pilihan terbaik sebagai tontonan bersama seluruh anggota keluarga, mulai dari generasi kakek-nenek hingga cucu-cicit. Sangat menghibur dengan komedinya dan begitu hangat lewat ‘hati’-nya yang begitu besar. Siap-siap dibuat tertawa, bersenang-senang, bernyanyi, hingga terharu bersama yang bahkan bukan tak mungkin, in the end semakin mempererat hubungan antar anggota keluarga.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates