Tuesday, June 27, 2017

The Jose Flash Review
Surat Kecil untuk Tuhan [2017]

Selain horror, rupanya tema yang selalu mendapatkan tempat di hati penonton Indonesia adalah drama yang menguras air mata. Tak heran jika tahun 2011 lalu, Surat Kecil untuk Tuhan (SKuT) yang diangkat dari novel karya Agnes Davonar mencetak box office dengan perolehan 748.842 penonton. Speaking of tear-jerking, Agnes Davonar bisa dikatakan sebagai penulis paling piawai di tema tersebut. Tercatat sudah cukup banyak karya mereka berdua (ya, Agnes Davonar adalah nama pena untuk duo kakak-beradik, Agnes Li dan Teddy Li) yang diangkat ke layar lebar. Mulai SKuT, Gaby dan Lagunya, Ayah, Mengapa Aku Berbeda?, My Blackberry Girlfriend, My Idiot Brother, Sebuah Lagu untuk Tuhan, dan Bidadari Terakhir. Kerap mengeksploitasi penyakit sebagai tear-jerker, tak menyurutkan antusiasme pembaca dan penonton untuk mengikuti tiap kisah yang ditelurkan. Turut menyemarakkan Hari Raya Lebaran tahun 2017 ini, Falcon Pictures yang dikenal sebagai pencetak box office beberapa tahun terakhir, mencoba mengangkat ‘formula’ khas Agnes Davonar dengan judul yang sama, Surat Kecil untuk Tuhan (versi tahun 2011 di LSF terdaftar sebagai Surat Kecil untuk Tuhan (SKuT), sementara versi 2017 sebagai Surat Kecil untuk Tuhan saja), tapi dengan materi cerita yang sama sekali berbeda.

Diangkat dari cerita pendek yang dipublikasikan pertama kali tahun 2015 berjudul Anton dan Angel, kemudian dibuat versi novel yang dirilis bersamaan dengan versi film tahun 2017, SKuT versi 2017 mengangkat tema child abuse dan organ trafficking yang sebenarnya tergolong kelewat berat sebagai sajian film keluarga di momen Lebaran. Untuk ‘menetralisir’ anggapan tersebut, dipakailah lagu-lagu anak klasik yang diaransemen ulang sebagai materi promosi, seperti Ambilkan Bulan, Nina Bobo, Bintang Kecil, dan Tik-Tik Bunyi Hujan. Nama-nama yang mendukung pun tak bisa dianggap remeh. Mulai penulis naskah adaptasi Upi (Lebaran ini, dua karyanya dirilis bersamaan; SKuT dan Sweet 20), sutradara Fajar Bustomi (Kukejar Cinta ke Negeri Cina, Slank Nggak Ada Matinya, Remember When: Ketika Kau dan Aku Jatuh Cinta, dan 99% Muhrim: Get Married 5), dan bintang sekelas Bunga Citra Lestari, Joe Taslim, dan Lukman Sardi di lini terdepan, didukung Aura Kasih, Rifnu Wikana, Ben Joshua (reuni dengan BCL setelah Cinta Pertama), Maudy Koesnaedi, Chew Kin Wah, Susan Bachtiar, dan si cilik dari 3, Di Balik 98, dan {rudy habibie}, Bima Azriel.

Anton memutuskan untuk membawa adiknya, Angel, kabur dari rumah karena sudah tak tahan lagi dengan perlakuan sang paman yang kerap menganiaya. Naas, hidup di jalanan yang keras malah membawa mereka Anton dan Angel ke tangan Om Rudi, seorang pria yang menampung anak-anak terlantar untuk dipekerjakan di jalan-jalan raya. Sebuah peristiwa memisahkan Anton dan Angel yang katanya sama-sama sudah diadopsi. Angel beruntung karena diadopsi orang tua yang baik dan mapan. Ketika dewasa ia menapak karir sebagai pengacara di Sydney, Australia. Ia pun dipertemukan dengan seorang dokter muda yang simpatik, Martin. Namun rasa penasarannya terhadap keberadaan Anton, sang kakak, semakin menjadi-jadi sehingga ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan mencari Anton. Namun investigasinya menyeret ke masa lalunya yang kelam dan membuka takbir kenyataan yang jauh lebih kelam lagi.

Sejak merilis materi-materi promosi, terutama trailer, SKuT menunjukkan kemiripan dengan Lion, sebuah biopic tentang seorang laki-laki India mencari kakak kandungnya setelah terpisah sekian lama. Benar saja, ‘rasa’ film yang baru dirilis tahun 2016 lalu dan masuk bursa Oscar ini dapat dengan jelas ditemukan bahkan di premise utamanya saja. Bedanya, karakter utama diganti menjadi perempuan, ditambah isu anak jalanan yang dipekerjakan oleh oknum tertentu dan kerap menjadi korban kekerasan yang memang menjadi isu sosial yang realistis terutama di kota-kota besar di Indonesia, elemen court drama, dan sedikit bumbu roman yang mengingatkan saya akan Heart (iya, Heart yang dibintangi Acha Septriasa, Irwansyah, dan Nirina Zubir tahun 2006 silam itu). Arahnya cukup terbaca, tapi sebenarnya tetap bisa jadi menarik.

Fajar membuka film dengan introduksi yang lebih terasa seperti rangkaian footage di sebuah video musik, ketimbang alur yang bergerak maju secara runtut. Feel ini makin terasa karena iringan musik dan lagu-lagu anak yang dibawakan dengan aransemen a la choir. Untung saja selepas introduksi, plot mengalir dengan lebih lancar. Aura yang kelewat kelam sedikit lebih mereda dan pace drama-nya berjalan dengan pace yang cukup seimbang. Tak kelewat lambat maupun berlarut-larut, tapi juga tak terlampau cepat untuk membuat penonton merasakan emosi yang ingin disampaikan.

Court drama-nya memang tak se-intriguing film-film yang memang fokus sebagai court-drama. Kesemuanya digerakkan dengan biasa saja karena sudah sangat jelas terlihat. Tak ada misteri ataupun teka-teki tertentu yang membuatnya menjadi lebih appealing untuk diikuti. Untung saja pace pergerakannya masih cukup lancar dan tak bertele-tele. Punya momentum-momentum emosional yang cukup berhasil ‘menggerakkan’ saya pula. Konfliknya yang tak mudah kemudian dihadirkan dengan cukup rasional dan mengalami perkembangan yang natural. Tentu ini juga faktor akting, terutama dari Bunga Citra Lestari sebagai Angel dewasa, Joe Taslim sebagai Martin, Lukman Sardi sebagai Om Rudi, Rifnu Wikana sebagai Asep, dan Aura Kasih sebagai Ningsih. Begitu juga bintang-bintang cilik, Bima Azriel dan Izzati Khanza yang sulit untuk tidak membuat hati penonton terenyuh. Hanya saja mungkin ada dialog yang tak perlu dibawakan oleh Rifnu karena alih-alih memberi emosi lebih, justru merusak momen yang susah untuk tidak memancing tawa penonton.

Tak ada kendala berarti di teknis. Artistik dari Ade Gimbal justru terlihat begitu menonjol, terutama untuk interior rumah Om Rudi sampai eksterior-eksterior Sydney. Permainan cahaya dan color grading yang vibrant bak lampu-lampu neon kota memperkaya visual meski kerap harus mengorbankan beberapa bagian gambar yang menjadi kelewat gelap pekat, seperti bibir BCL, misalnya. Dibidik dengan sangat baik pula oleh sinematografi Yudi Datau, terutama lewat pergerakan kamera yang seirama dengan pace film. Editing Ryan Purwoko menjaga pace film dengan cukup baik, kendati di babak pertamanya lebih terasa seperti rangkaian footage semata di video musik ketimbang introduksi sebuah film yang punya plot bergerak runtut. Musik dari Andhika Triyadi mempertegas feel kelam dan melankoli, tapi tak sampai kelewat sendu atau depresif. Berpadu serasi pula dengan aransemen lagu-lagu anak klasik a la choir.

Overall, saya sama sekali tidak keberatan dengan ‘inspirasi’ Lion yang memang cukup jelas terasa. Tidak pula dengan ‘cara’-nya dalam menguras air mata penonton yang ternyata masih jauh lebih ‘elegan’ dibandingkan disease-porn (istilah untuk film-film yang kelewat mengeksploitasi penyakit sebagai tear-jerker) kebanyakan, termasuk SKuT versi 2011 sekalipun. Saya justru menghargai niatannya mengangkat tema sosial seperti ini untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian, terutama orang tua, terhadap anak-anak serta bahaya-bahaya yang mengitarinya. Namun men-‘jual’-nya sebagai film keluarga, apalagi anak-anak dengan gimmick promosi lagu-lagu anak yang diaransemen ulang, jelas salah sasaran. Apa yang dihadirkan di sini tak hanya kelewat kelam, tapi juga tergolong kelewat kejam dan inappropriate untuk anak-anak. Bahkan ada satu adegan yang harus di-blur karena instruksi revisi dari LSF. Yes, it is a movie about children, but doesn’t mean that it’s for children.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates