Thursday, June 2, 2016

The Jose Flash Review
Teenage Mutant Ninja Turtles:
Out of the Shadows

Kesuksesan re-booth Teenage Mutant Ninja Turtles (TMNT) yang dilakukan Nickelodeon-Paramount dengan Michael Bay sebagai salah satu produser (dengan budget US$ 125 juta berhasil membukukan US$ 493 juta lebih di seluruh dunia). Review yang beragam, tapi tak sedikit yang memberikan review negatif, tak menyurutkan niat petinggi Paramount, termasuk Michael Bay untuk melanjutkan kelangsungan franchise ini dimana rencana penggarapan sekuelnya ini diumumkan hanya dua hari setelah installment pertamanya dirilis. Masih menggandeng penata skrip yang sama, Josh Appelbaum dan André Nemec, sayangnya bangku penyutradaraan berpindah dari Jonatahn Liebesman ke Dave Green yang sebelumnya dikenal lewat sci-fi keluarga, Earth to Echo. Dengan subtitel Out of the Shadows (OotS), Michaelangelo, Donatello, Leonardo, Raphael, masih diperankan oleh aktor yang sama, termasuk salah satu daya tarik utama, Megan Fox sebagai April O’Neil, terkecuali Johnny Knoxville yang mundur sebagai pengisi suara Leonardo, serta Tohoru Masamune sebagai Shredder yang digantikan Brian Tee.

Pasca ditangkapnya Shredder yang mengacaubalaukan kota, para kura-kura ninja mutan; Micaelangelo, Donatello, Leonardo, dan Raphael, memutuskan untuk kembali menjalani hidup secara sembunyi-sembunyi di gorong-gorong bawah tanah bersama guru mereka, seekor tikus mutan, Splinter. Sementara Vernon Fenwick dijadikan ‘simbol’ pahlawan yang berjasa menangkap Shredder, hingga dianugerahi kunci kota. Ketenangan kota kembali terusik ketika April mengendus rencana dari seorang ilmuwan bernama Baxter Stockman untuk membantu Shredder kabur ketika dipindahkan ke penjara lain dengan pengamanan lebih. Benar saja, tak hanya Shredder, narapidana lainnya, Rocksteady dan Bebop turut lenyap. Casey Jones yang menjadi salah satu sipir pengantar para narapidana itu tertarik untuk ikut melakukan penyelidikan kasus ini. Keempat kura-kura ninja mutan, April, dan Casey harus bahu-membahu untuk mencari tahu rencana Shredder dan Baxter yang sebenarnya.

Sebelum saya me-review OotS lebih lanjut, patut saya ingatkan lagi bahwa TMNT adalah franchise yang dibuat dengan target audience anak-anak (meski franchise versi terbaru ini punya rating PG-13), sehingga tujuan utamanya tentu saja untuk menghibur anak-anak. Jadi jika Anda mengharapkan plot cerita yang rumit atau big concept yang muluk-muluk, maka TMNT bukanlah sajian yang tepat untuk Anda. OotS pun masih mengusung konsep yang tak jauh berbeda dengan installment sebelumnya: mainly a pure entertainment with exciting ride. Ya, ia pun masih mempertahankan pengabaian logika kontinuiti demi lancarnya pace film seperti installment pertama, tapi sekali lagi, ini adalah film dengan target audience utama anak-anak, so I suggest you to use kids’ logic and just enjoy the ride like a kid does. Untuk tujuan itu, OotS masih berhasil membuat penontonnya ‘bertualang’ seru bak terlibat di dalam film, even bigger, even more dangerous. Bisa dibilang, OotS basically the same TMNT, dengan kemunculan karakter-karakter ikonik yang belum sempat ditampilkan di installment sebelumnya, seperti Casey Jones, Rocksteady, Bebop, dan… Krang! Yup, tidak bisa dipungkiri, installment sebuah franchise tentu harus memuat fungsi fan-service ini. For that purpose, OotS has definitely served it well!

Sayang beberapa bagian agak mengganggu pace di tengah gempuran adegan-adegan aksi petualangan yang menjadi sajian utama OotS. Penyebabnya adalah jalannya plot investigatif yang coba dihadirkan sebagai kemasan. Alih-alih membuat film jadi lebih menarik karena basically formulaic, semua penonton sudah tahu apa cerita akan bermuara ke mana, narasi investigatif ini justru memberi kesan membosankan dan melelahkan di tengah-tengah. Untung saja ini tak berlangsung lama karena adgean-adegan aksi bombastis selanjutnya segera diinjeksikan lagi.

Untuk urusan konsep cerita dan storyline, sebenarnya OotS menawarkan sesuatu yang lebih berbobot untuk dipikirkan, terutama oleh para kura-kura ninja mutan kita. Terutama sekali pertimbangan-pertimbangan untuk stay low profile sebagai pahlawan pelindung kota demi kebaikan bersama atau show up menjadi pahlawan yang terang-terangan membuka identitas diri.  Belum lagi godaan untuk bisa berubah menjadi sepenuhnya manusia agar bisa berbaur dengan manusia, yang mau tak mau mengingatkan kita akan konsep yang diusung X-Men (bahkan ada line “people fear what they don’t understand”!). Bukan mencontek sih, karena wajar saja punya problematika yang sama mengingat sama-sama karakter mutan. Mungkin kekhawatiran tuduhan mencontek itu pula yang membuat isu ini tak diangkat menjadi tema utama sepanjang film. Sayangnya, OotS hanya men-tease ide ini. Padahal tentu ada banyak fans yang ingin tahu seperti apa visualisasi para kura-kura ninja mutan jika berwujud manusia, seperti yang pernah dilakukan di Casper (1995), bukan?

Above all, OotS memilih meletakkan isu tentang teamwork dan kepemimpinan sebagai isu utama di sini. Ini sebenarnya isu yang terkesan sepele tapi punya dampak yang besar, bahkan bisa jadi punya andil dalam terjadinya isu-isu yang saya sebutkan sebelumnya. It’s a good move though, mengingat keempat karakter kura-kura ninja mutan ini punya karakter serta peranan yang berbeda-beda, sehingga sangat memungkinkan ada kalanya ego salah satunya mengancam tim. OotS delivered it very well this time, bahkan menjadi salah satu faktor penting dari konklusi. Tak terlalu istimewa, epic, ataupun begitu bold, tapi tetap terasa kehadirannya, dan upaya itu tetap layak mendapatkan kredit tersendiri.

Di jajaran cast sebenarnya tak ada yang benar-benar menonjol ataupun tampil istimewa. Hampir kesemuanya masih tetap tampil setara dengan penampilan mereka di installment pertama. Megan Fox (April), Will Arnett (Vernon), Noel Fisher (Michaelangelo), Jeremy Howard (Donatello), Pete Ploszek (Leonardo), dan Alan Ritchson (Raphael) tampil dengan porsi yang sama-sama seimbang. Brian Tee tak terlihat punya kesulitan meneruskan karakter Shredder yang sebenarnya porsi perannya juga tak begitu banyak dan penting.

Kehadiran Stephen Amell (dari serial Arrow) sebagai Casey Jones tentu semakin menyemarakkan tim. Kharismanya yang mungkin tak setangguh keempat mutan kura-kura ninja, tapi tetap saja terasa lovable dan mampu mencuri simpati penonton. Tyler Perry sebagai Baxter mengingatkan saya akan karakter Professor Klumps dari The Nutty Professor. Stephen Farrelly dan Gary Anthony Williams cukup berhasil menghidupkan karakter Rocksteady dan Bebop yang ikonik. Replaceable by any actors, tapi setidaknya karakter-karakter yang mereka perankan jadi cukup noticeable sebagaimana aslinya. Kredit terakhir untuk Laura Linney yang berkat kharismanya berhasil mencuri perhatian saya meski karakternya tak punya porsi maupun peran yang cukup berarti.

Mengusung konsep exciting ride action-adventure, pergerakan kamera dan editing menjadi sebagian faktor yang paling krusial. Director of Photography Lula Carvalho berhasil menghadirkan pengalaman sinematis serta keseruan yang sama dari installment pertama. Begitu juga editor Bob Ducsay-Jim May yang berpengalaman mengedit film-film aksi blockbuster sejenis yang menjaga pace serta excitement film. Komposer langganan Bay, Steve Jablonsky, yang diboyong untuk mengisi musik OotS juga mendukung tiap adegan-adegan spektakulernya.

Format 3D sangat disarankan. Salah satu format 3D terbaik tahun ini, apalagi banyak shot-shot bak exciting ride yang menambah efek keseruannya. 4DX pun layak untuk turut dicoba. In my opinion, also the best in 2016 after Captain America: Civil War and before X-Men: Apocalypse. Mulai motion and vibrating seat, hembusan angin yang sangat berjasa untuk adegan-adegan gerakan cepat di malam hari yang mendominasi, water spray, smoke, ankle shock di klimaks, dan yang jarang keluar: bubbles! Notable 4DX moment: the whole aircraft scene, dilanjutkan sepanjang kejar-kejaran di sungai. Breathtaking!

Jika Anda bingung memutuskan untuk nonton OotS atau tidak, mungkin pertanyaan ini bisa membantu Anda: apakah Anda menikmati installment pertamanya? Jika iya, maka OotS tetap akan memuaskan Anda sebagai sajian hiburan yang fun to experience. Jika tidak, maka tak perlu buang-buang waktu, uang, dan tenaga untuk membenci, karena Anda tetap akan membencinya. Jika belum menonton installment pertama, tak ada salahnya mencoba. Istirahatkan otak Anda sejenak dengan tak perlu ambil pusing memikirkan logika plot. Ikuti saja narasinya dan nikmati experience yang disuguhkan. As for me, it’s a whole lot of fun experience that I’ll always crave for more.

Lihat data film ini di IMDb.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates