Friday, May 27, 2016

The Jose Flash Review
Warcraft

Dimulai dengan sebuah video game real time strategy (RTS) yang dirilis pertama kali tahun 1994, Warcraft berkembang menjadi salah satu franchise video game raksasa sepanjang masa. Sampai 2016 ini sudah beredar enam judul game core (tak termasuk expansion pack-nya) dengan genre yang berkembang pula. Dari RTS hingga massively multiplayer online role-playing game (MMORPG) dan digital card game, diikuti novel, komik, manga, dan bahkan punya majalah sendiri. Tinggal satu format yang belum: film layar lebar. Ada alasan kenapa Blizzard Entertainment terkesan sangat berhati-hati memberikan hak adaptasi layar lebarnya, mengingat reputasi film adaptasi dari game yang nasibnya bak kutukan. Meski rencana adaptasi layar lebar sudah diumumkan sejak 2006, pergantian naskah dan sutradara mewarnai perkembangannya. Dari sisi naskah, Blizzard tak mau adaptasi Warcraft ini menjadi terlalu mirip dengan The Lord of the Rings yang begitu populer. Sementara dari sisi sutradara, tercatat ada director yang (notoriously) dikenal sebagai ‘spesialis’ adaptasi game, Uwe Boll, Sam Raimi, hingga akhirnya jatuh ke tangan Duncan Jones, putra David Bowie yang daftar filmografinya baru Moon dan Source Code tapi punya reputasi yang baik. Di tangan Jones pun, Warcraft tak sepenuhnya mulus, mengingat Jones sempat menghadapi beberapa masalah pribadi dalam prosesnya. Mulai sang istri yang didiagnosis kanker payudara hingga kematian sang ayah. Dengan mengaku naskah yang ditulis berdasarkan plot novel Warcraft: The Last Guardian, installment pertama Warcraft di layar lebar akhirnya siap tayang di musim panas 2016 ini. Meski terkesan ‘segmented’, pemain dan penggemar game-nya yang terbukti mencatat angka bersejarah, tentu kiprah pertamanya ini tak boleh diremehkan begitu saja. Tak hanya Jones, Charles Leavitt (Blood Diamond, Seventh Son, dan In the Heart of the Sea) yang berkolaborasi denganya dalam menyusun naskah, juga menjadi alasan tambahan.

Hikayat Warcraft dimulai dari dunia para orc bernama Draenor yang sedang sekarat. Menurut Gul’dan, sang pemimpin, satu-satunya harapan mereka adalah dunia baru bernama Azeroth lewat sebuah portal yang hanya bisa dibuka dengan kekuatan magis bernama Fel. Meski meragukan Gul’dan, seorang kepala suku Frostwolf bernama Durotan, bersama istrinya yang sedang hamil, Draka, dan Orgrim memutuskan untuk bergabung.

Sementara itu di kerajaan Azeroth, seorang komandan militer, Sir Anduin Lothar, mendapatkan laporan serangan desa-desa manusia yang menurut Khadgar, seorang penyihir muda, akibat dari kekuatan Fel. Khadgar merekomendasikan untuk berkonsultasi kepada gurunya, Medivh. Mengikuti jejak Fel, Lothar, Khadgar, dan Medivh diserang oleh kaum orc. Dari bentrokan ini, mereka berhasil menangkap seorang tawanan wanita separuh-orc bernama Garona. Awalnya mereka berniat memanfaatkan Garona untuk menyerang kaum orc, tapi setelah mengetahui rencana jahat Gul’dan, diupayakanlah sebuah perundingan diplomatis antara orc dan manusia. Namun rupanya pengaruh Gul’dan terlalu kuat hingga perang antara kaum manusia dan orc pun tak terelakkan.

Jujur, saya bukan pemain (apalagi fans) games-nya. Jangankan main, tertarik untuk main saja tidak. But hey, adaptasi film layar lebar (apalagi installment pertama) seharusnya mampu memperkenalkan ‘universe’-nya dengan efektif. Syukur-syukur bisa membuat penonton ‘awam’ tertarik mengikuti ceritanya atau mulai main game-nya. Harapan yang sama pun sempat terbersit dalam pikiran saya. Sejak awal, atmosfer bak The Lord of the Rings memang tak bisa dielakkan. Keduanya sama-sama punya creature orc, ada perang yang melibatkan manusia dan orc, dan yang paling penting, sama-sama bersetting dunia fantasi yang serupa. Namun Warcraft sudah membuat saya tak peduli dengan jalinan plot yang ada sejak pertama kali bergulir. Menurut analisis dugaan saya, penyebabnya adalah adaptasi yang masih terlalu mentah dari game (apalagi strategi dan RPG) ke dalam format cerita layar lebar. Saya bisa merasakan cukup banyak adegan terkesan berbelit-belit ala RTS dan RPG. ‘Langkah-langkah’ ini mungkin cukup seru dan bikin penasaran ketika berada di konsol game dimana pemain dibuat penasaran dan berpikir untuk menentukan nasib berikutnya. Sedangkan di layar lebar dimana penonton tinggal duduk manis dan menikmati cerita, tentu ini memberikan kesan bertele-tele. Apalagi sebenarnya plot dasar Warcraft (setidaknya, di installment ini saja) tergolong sangat-sangat generik di genre petualangan fantasi.

Jangankan muatan filosofis-filosofis mendalam, layer cerita yang membuat penonton tertarik, misalnya untuk menganalisis karakter sehingga ikut peduli dan menebak what will happen next saja tidak ada. Maka tak salah jika banyak (terutama yang berasal dari non-pemain game-nya) yang merasakan capek dan kemalasan untuk mengikuti plotnya. Even worse, saya bisa melihat para cast yang seolah-olah berusaha menahan tawa untuk mengolok-olok lakon yang mereka perankan sendiri. Adegan-adegan perang memang ada di sana-sini tapi dengan konsep yang ‘biasa saja’ dan peletakan di antara adegan-adegan yang bertele-tele, excitement untuk menikmati atau sekedar mengikuti keseruan perangnya menjadi berkurang drastis.

Warcraft punya cukup banyak karakter dengan porsi yang nyaris sama besarnya sehingga konsentrasi penonton (setidaknya bagi saya) untuk benar-benar tercuri perhatiannya menjadi terbagi-bagi. Alhasil karakter-karakter, apalagi para aktor pemerannya, tak membekas terlalu banyak pasca film berakhir. Coba saya breakdown satu-satu. Paula Patton sebagai Garona menjadi aktor yang paling saya ingat sepanjang film. Selain menjadi ‘kaum minoritas’ di antara para pejantan, penulisan karakternya memang menjadi yang paling menarik. Kemudian Ben Schnetzer sebagai penyihir muda, Khadgar yang juga menarik dan punya porsi peran yang cukup penting. Sementara Travis Fimmel sebagai Lothar, Ben Foster sebagai Medivh, dan Dominic Cooper sebagai Llane Wrynn punya porsi peran yang kurang lebih sama.

Di peran-peran motion capture, Toby Kebbell (Durotan), Anna Galvin (Draka), Daniel Wu (Gul’dan) tak buruk, tapi karena bukan ‘barang baru’ lagi di perfilman dunia dan juga harus berbagi porsi daya tarik, penampilan ketiganya tak bisa dianggap istimewa pula. Terakhir, aktris Ethiopia yang sedang naik daun, Ruth Negga (serial Agents of S.H.I.E.L.D., Preacher, dan next di karya Jeff Nichols kedua di tahun 2016 ini, Loving) sebenarnya mengisi karakter yang tak terlalu punya peran penting, tapi penampilannya cukup berhasil mencuri perhatian saya.

Meski punya plot yang tak membuat saya tertarik mengikuti, Warcraft masih menawarkan kemegahan visual effect yang setidaknya masih bisa membuat saya bertahan mengikutinya. Bisa dibilang, Warcraft sangat ambisius dalam menampilkan visual effect. Lihat saja ada berapa firma effect yang dilibatkan, termasuk yang punya reputasi paling atas di Hollywood; Industrial Light & Magic dan Weta. Apalagi format 3D yang harus saya akui, terbaik di tahun 2016 ini, so far. Depth of field-nya luar biasa. Bahkan untuk shot close-up orc pun terasa sekali kesan gigantic dan grandeur-nya. Beberapa gimmick pop-out ditampilkan tapi karena untuk adegan yang ‘biasa-biasa’ saja, sehingga tak memberikan efek kejut dan fun yang cukup berarti.

Sinematogafi Simon Duggan lebih dari cukup untuk menyampaikan cerita, termasuk beberapa shot ala RPG yang memberikan efek keseruan lebih. Meski secara keseluruhan belum ada adegan yang bisa memberikan kesan ‘luar biasa’. Editing Paul Hirsch pun cukup tepat sesuai pace yang diinginkan Duncan. Kesan plot yang bertele-tele terasa sudah coba diminimalisir. Jika masih terasa, itu lebih karena faktor naskah ketimbang editing. Terakhir, scoring dari Ramin Djawadi juga cukup menghidupkan kesan megah dan seru, meski (lagi-lagi) tak memorable, apalagi hummable.

Untuk format 4DX, Warcraft sebenarnya menawarkan gimmick efek yang cukup komplit. Mulai motion seat, vibrating seat, water spray, kilauan blitz, wind, dan ankle shock. Beberapa shot first person pun menawarkan efek experience yang lebih. Notable moment untuk adegan-adegan sorcery yang melibatkan motion seat bak gempa, kilauan blitz, dan hembusan angin kencang.

Dengan presentasi yang coba ditawarkan, installment pertama Warcraft ini sebenarnya tak tergolong buruk. Sayangnya, bahkan Jones-Leavitt (Leavitt sendiri sebenarnya juga tak berhasil membuat Seventh Son yang setipe jadi lebih menarik) pun belum bisa membuat hikayatnya menarik perhatian penonton non-gamer. Sekali lagi terbukti bahwa adaptasi game ke layar lebar sama sekali bukan pekerjaan yang mudah. Malah mungkin lebih sulit ketimbang adaptasi novel atau komik. Faktor utamanya jelas medium yang sangat jauh berbeda. Jika novel dan komik sama seperti film yang tinggal dinikmati oleh penikmat, game masih harus melibatkan peran pemain. Namun jika Anda tergolong pemain, apalagi jika sampai menjadi salah satu fan-nya, adaptasi ini jelas pantang untuk dilewatkan. Selebihnya, nikmati saja sajian visualnya yang memang memanjakan mata.

Lihat data film ini di IMDb.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates