Wednesday, February 10, 2016

The Jose Flash Review
Deadpool

Setelah kegagalan remake Fantastic Four, Fox tak banyak punya sisa franchise dari kerjasamanya dengan Marvel. Bisa dibilang hanya franchise X-Men dan berbagai spin-off-nya yang menjadi tumpuan pencetak uang terbesar. Setelah karakter Wolverine, ada beberapa karakter yang dipertimbangkan untuk dibuatkan film sendiri. Beberapa nama yang sempat digosipkan ada Gambit, Mystique, dan Deadpool. Ketiganya pernah tampil di film X-Men. Khusus untuk karakter Deadpool, selain sempat muncul di X-Men Origins: Wolverine, rencana pembuatan filmnya sudah sempat tercetus sejak lama. Bahkan hak pembuatannya sempat dipinang oleh Artisan tahun 2000 dan sempat pula dikabarkan akan diproduksi oleh New Line Cinema tahun 2005, sebelum akhirnya dibeli oleh Fox.

Di tangan Fox, Deadpool punya penulis naskah sejak 2009 dan sutradara sejak 2011. Namun entah kenapa produksinya berjalan lambat. Mungkin ada faktor ketidakpercaya-dirian Fox merilis film spin-off superhero Marvel dengan rating R yang jelas-jelas akan membatasi segmen audience. Meski ini bukan film bertemakan superhero pertama yang mendapat rating R. Sebut saja franchise Blade, The Punisher, dan Kick Ass. Ketidak-pedean juga ditunjukkan lewat budget terbatas yang akhirnya diperketat lagi dan menunjuk sutradara yang masih debutant, Tim Miller. Miller sendiri sebelumnya bertindak sebagai kreator opening sequence dari The Girl with the Dragon Tattoo dan Thor: The Dark World, serta creative supervisior untuk Scott Pilgrim vs the World. Untung saja naskahnya ditulis oleh Rhett Reese dan Paul Wernick yang berpengalaman menulis naskah action dengan bumbu dark comedy di Zombieland. Ryan Reynolds yang dianggap sudah pas memerankan Wade Wilson di X-Men Origins: Wolverine, didapuk kembali bergabung. Dirilis bertepatan dengan perayaan 25 tahun sejak kemunculan karakternya untuk pertama kali di komik New Mutants #98, film Deadpool siap berkompetisi di bulan yang tergolong sepi penonton.

Film dibuka dengan sebuah adegan slowmotion chaotic yang diiringi narasi the origin of Deadpool. Wade Wilson adalah seorang mantan pasukan khusus yang bekerja sebagai mercenary yang di-organize di sebuah bar. Ia bukanlah pembunuh bayaran. Ia lebih memilih kerjaan untuk ‘memberi pelajaran’ orang yang layak mendapatkannya. Hidupnya berubah ketika ia jatuh cinta dengan seorang stripper/hooker bernama Vanessa. Bersamanya, hidup Wade menjadi lebih punya arti dan tujuan. Namun kesemuanya terancam ketika Wade didiagnosis kanker. Di saat hampir putus asa, datanglah pria misterius yang menawarkan kesembuhan dengan menjadi sukarelawan eksperimen penciptaan superhero. Wade tidak tertarik menjadi superhero. Tujuan utamanya adalah menjadi selalu ada untuk Vanessa. Siapa sangka ternyata eksperimen ini justru menjadikannya lebih buruk. Tak hanya merubah wajahnya menjadi bak Freddy Krueger. Kompensasinya, ia punya kekuatan mutant yang istimewa, termasuk fast-healing. Hanya satu yang tak berubah: selera humor dan mulut yang tak berhenti berceloteh. Tujuan utamanya kini hanya satu: mencari Francis alias Ajax yang menjadikannya seperti sekarang, meminta serum penawar supaya bisa jadi sedia kala, dan kembali bersatu dengan Vanessa.

Serupa dengan X-Men Origins: Wolverine, Deadpool adalah spin-off yang lebih berfokus untuk menceritakan the origin story dan bersifat lebih personal ketimbang higher purpose yang bersifat global seperti film induknya: X-Men. Membuka film dengan adegan slowmotion chaotic sebagai acuan narasi cerita, jelas tujuan utama Deadpool adalah ingin mengajak penonton bersenang-senang, di balik plotnya yang sebenarnya just another superhero origin story. Benar sekali, kekuatan utama yang menjadikan ia menarik adalah mulut Wade Wilson yang tak henti-hentinya melontarkan joke-joke cerdas, terutama sexual referenced jokes dan pop-culture referenced jokes. Coba hitung saja ada berapa banyak pop culture yang disebut yang membuat penonton (yang paham) terbahak-bahak. Ada X-Men sendiri, The Matrix, Aliens 3, Sinead O’ Connor, Taken 3, Oldboy, The Godfather, Blade Trinity, bahkan Ryan Reynolds sendiri. Wade Wilson yang berbicara langsung kepada penonton dan candaan seolah-olah mereka sedang berada pada produksi film bersangkutan juga beberapa kali dimasukkan untuk semakin menguatkan kesan gokil dan ‘main-main’. ‘Jualan’ kedua Deadpool tak lain tak bukan adalah adegan-adegan violence yang jauh lebih gory dan blak-blakan ketimbang film-film X-Men yang memuat adegan pertarungan Wolverine. That all were really really worth its R-rated.

Sayangnya, that’s all it got to entertain the audiences. Ada banyak aspek yang terabaikan sebagai kekuatan penunjang segala fun stuff-nya. Premise utama tentang perjuangan seorang pria demi orang tersayang yang seharusnya bisa jauh lebih menyentuh dan menjadi pilar kekuatan, tertutupi oleh style dirty jokes yang juga diaplikasikan untuk romance aspect-nya. Maka tak salah pula jika ada penonton yang merasa karakter Deadpool kurang sympathetic. Tak salah juga jika saya menyebut Deadpool all mouth, less heart.

Melanjutkan peran dari X-Men Origins: Wolverine, Ryan Reynolds semakin memperkuat karakter Wade yang super cerewet tapi dengan celotehan menggelitik nan cerdas. Penonton mungkin akan mudah jatuh cinta dengan selera humornya, bukan hatinya, but hey it’s just a start. Give him some times to develop the character even further. Di lini lawan, Ed Skrein sebagai Francis/Ajax jelas lebih cocok memerankan karakter villain ketimbang jagoan seperti di Trainspotting: Refueled. Naskah memang tidak memberikan dimensi dan kompleksitas lebih kepada karakternya, tapi Ed tampil cukup meyakinkan pun kharismatik sebagai seorang villain. Stefan Kapicic (suara) dan Andre Tricoteux (aktor motion capture) yang berperan sebagai Colossus, Brianna Hildebrand sebagai Negasonic Teenage Warhead, dan tentu saja, Gina Carano sebagai Angel Dust, menjadi mutant pendukung yang cukup berkesan di balik dimensi karakter yang memang terbatas. Sementara yang menjadi screen stealer, ada Morena Baccarin sebagai Vaness yang mana chemistry-nya bersama Reynolds terkesan asyik, T.J. Miller sebagai Weasel, Jed Rees sebagai ‘Agent Smith’ yang somehow sangat mirip Hugo Weaving, Karan Soni sebagai Dopinder, dan tentu saja, Leslie Uggams sebagai Blind Al.

Untuk ukuran film action superhero, Deadpool memang tidak menunjukkan special effect yang benar-benar istiewa, tapi menggunakan segala upaya yang maksimal untuk memberikan wow-effect. Tentu ini tak lepas dari dukungan  sinematografi Ken Seng. Tak ada adegan yang di-shot dengan kamera IMAX dan tidak banyak meampilkan grande-look, menonton Deadpool dengan format IMAX memang tak terlalu terasa istimewa. But hey, seeing a superhero movie with lots of action sequences will always look more enjoyable. Kelebihan menonton format IMAX justru lebih terasa dari segi tata suara yang dahsyat. Dengarkan saja ketika Negasonic mengeluarkan api sebelum menyerang. Deep bass, crisp, clear, dan maximum use of surround’s channels separation. Deadpool terasa sangat dahsyat. Editing Julian Clarke yang serba dinamis terasa pas bersinergi dengan alur film. Terakhir, meski scoring yang diracik Junkie XL tidak terasa begitu istimewa, tapi pemilihan lagu-lagu hits 80-90’-an seperti Angel in the Morning dari Juice Newton, Shoop dari Salt-N-Pepa, X Gon’ Give it to Ya dari DMX, dan tentu saja, Careless Whisper dari Wham! jelas menjadi special treat buat anak gaul 80-90’-an.


Well yeah… sebagai paket hiburan, Deadpool mungkin terasa seperti salah satu film Marvel paling gokil, mengasyikkan, dan tak senonoh. Jadi jika Anda tidak terlalu familiar dengan karakter Deadpool dan sekedar mencari hiburan ringan yang menghibur, it’s definitely for you. Tapi jika Anda mengharapkan kedalaman lebih, ia mungkin bisa jadi mengecewakan. But hey, bukannya most of us see a superhero movie just to have fun? If you answer yes, then watch it now! Oh ya, saya tidak akan menghimbau jangan ajak anak-anak menonton film ini, karena saya tahu ia tidak akan memberikan efek psikologis yang signifkan ke anak-anak. I’ve been there as a kid and look at me now, I survive!

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates