Monday, January 25, 2016

The Jose Flash Review
Petualangan Singa Pemberani: Atlantos

Jika product placement lewat sebuah film adalah hal yang lumrah terjadi, di Hollywood sekalipun, maka produk yang menjadikan film layar lebar sebagai salah satu promotional tools-nya sangat jarang terjadi. Adalah Wall’s lewat line up es krim bertarget market anak-anak, Paddle Pop, yang berani membawa karakter ikoniknya, seekor singa jantan, ke layar lebar. Sejauh ini sudah ada empat film panjang yang dirilis lewat medium DVD gratisan tiap pembelian produknya, dan juga diputar di layar lebar dengan dukungan teknis yang tentu saja jauh lebih baik, seperti tata suara surround dan gimmick 3D. Dimulai dengan Petualangan Singa Pemberani (2012), Petualangan Singa Pemberani 2 (2013), Petualangan Singa Pemberani: Dinoterra (2014), dan Petualangan Singa Pemberani Magilika (2015). Awal 2016, Paddle Pop kembali bekerja sama dengan studio animasi asal Thailand, The Monk Studios, Batavia Pictures, Pop Up 3D, dan Lowe Indonesia, melahirkan film kelimanya, Petualangan Singa Pemberani Atlantos (PSPA). Istimewanya, mereka tak hanya menawarkan format 2D dan 3D seperti sebelumnya, tapi juga format 4DX yang lisensinya di Indonesia dipegang oleh group CGV Blitz. Bangku sutradara kembali dipegang oleh Lee Croudy (PSP 1 & 2), dan voice talent utama juga masih diisi oleh Giring ‘Nidji’, didukung Yuki Kato, dan Oka Antara.

Raja Paddle Pop kedatangan Tuan Jambul, seorang pengusaha pengeboran minyak PT. Jambul Jaya yang meminta restunya untuk melakukan kegiatan di lepas pantai. Dengan alasan minyak sangat dibutuhkan semua orang, Raja Paddle Pop memberikan restunya. Pada saat peresmian, seorang anjing laut betina, Bella, memperingatkan Paddle Pop bahwa kegiatan pengeboran minyak itu telah membawa dampak polusi dan penyakin bagi warga. Belum sempat mengambil tindakan, daratan diserang oleh Jendral Khan beserta gurita raksasa, Ikaros, yang murka atas perusakan ekosistem laut di kerajaannya. Singkat cerita, ayah Bella diculik oleh Khan. Maka Raja Paddle Pop, Bella, Liona, Spike si landak, dan Twitch si bunglon, kembali bertualang ke negeri bawah laut untuk bernegosiasi demi kedamaian antara negeri daratan dan lautan, serta tentu saja membebaskan ayah Bella. Ternyata petualangan membawa mereka lebih jauh lagi, mengharuskan mereka menemukan Mutiara Pencipta sebagai penawar dari Mutiara Penghancur yang digunakan oleh Jendral Khan. Untung saja mereka juga mendapatkan bantuan dari Janggo, bajak laut insaf beraksen Madura dan seekor penguin bernama Eska.

Saya belum pernah menyaksikan film animasi Paddle Pop sebelumnya karena jujur saja, tidak begitu tertarik. Apalagi film yang ditayangkan di bioskop sudah rilis duluan dalam format DVD gratisan dengan pembelian es krim. Dalam benak saya, kisah petualangan Paddle Pop pasti ditulis dengan fantasi yang ngaco kesana-kemari, asal petualngan bergerak terus, dan kental pesan moralnya ketimbang peduli akan pengalaman sinematik maupun jalan cerita yang logis. Di installment kelimanya ini, saya mencoba memberanikan diri menyaksikannya di layar bioskop dengan format 3D.

Di luar dugaan, ternyata cerita PSPA ditulis dengan sangat layak untuk sebuah kisah petualangan fantasi untuk anak-anak. Alurnya berjalan dengan sangat lancar, step-step yang runtut dan kontinuiti terjaga, serta fantasi yang masih dalam koridor logis (kecuali, tentu saja part fabel-nya). Petualangan yang disajikan pun ternyata cukup menghibur, seru, dan enjoyable untuk diikuti. Jauh dari kesan depresif yang ditunjukkan oleh trailer-nya. Beberapa humor, terutama yang sifatnya innocent (mengingat target audience utamanya adalah anak-anak), ditebar di saat-saat yang tepat tanpa terkesan terlalu berlebihan. Serta yang paling penting, pesan moral yang disampaikan pun disampaikan dengan cara yang begitu halus, lebih menyatu dengan jalan cerita ketimbang sekedar blak-blakan disampaikan lewat dialog seperti yang saya khawatirkan selama ini. Alhasil, ‘pesan moral’ ini terasa lebih kuat dan menggugah ketika disampaikan.

Voice talent di sini rata-rata memberikan performa yang cukup baik dalam menghidupkan karakter-karakternya. Mulai Giring ‘Nidji’ sebagai Raja Paddle Pop, Yuki Kato sebagai Liona (menggantikan Putri Titian, Chelsea Olivia, dan Rachel Amanda), Oka Antara sebagai Jendral Khan, dan Naura sebagai Bella. Tapi above all, favorit saya adalah karakter Janggo, bajak laut insaf beraksen Madura. Mungkin aksennya ini memang dimaksudkan sebagai elemen komedi semata dan terkesan dibuat-buat, tapi terbukti berhasil membuat saya sekedar tersenyum melihat tingkahnya. Tak ketinggalan, karakter Pak Jambul yang suaranya tak kalah catchy.

Secara teknis animasi, saya dibuat cukup terpana oleh detail karakter yang luar biasa, lengkap dengan pergerakan yang tergolong cukup kompleks namun tampak begitu smooth. Lihat saja detail kostum Eska, rambut Paddle Pop dan Liona, atau janggut Janggo. Pergerakan ketika Paddle Pop melompat di perpustakaan juga menunjukkan kualitas animasi yang tak main-main. Meski bukan berarti tak ada celahnya, seperti sinkronisasi gerak bibir dengan suara dan detail animasi air yang kurang realistis. But well, animasi air memang punya tingkat kesulitan yang paling tinggi. Saya cukup paham jika ‘sekedar’ latar dijadikan alasan untuk kekurangan ini. Tata suara memang tak sampai memanfaatkan tiap kanal 7.1 dengan detail sound effect serta pembagian suara yang kentara, namun overall berhasil menyajikan suara yang terdengar mantap, lengkap dengan bass yang cukup dalam, untuk menghidupkan adegan-adegan petualangannya. Sementara gimmick 3D ternyata tampil cukup baik dengan depth yang lumayan terasa serta sesekali efek pop-out. Quite fun.

I have to say, I was quite surprised with sajian PSPA secara keseluruhan. Way better than I thought it will be. Memang belum sampai menjadi kisah petualangan epic yang bakal menyandang status klasik atau remarkable. Pun juga kualitas animasi secara keseluruhan yang masih belum merata kualitasnya. Tapi overall, saya benar-benar mengapresiasi effort yang dilakukan, mulai dari desain karakter, penulisan cerita, hingga penggarapan animasi. It’s really a good one. Semoga saja Wall’s dan timnya tak pernah lelah ataupun jenuh untuk terus konsisten memproduksi dan mengembangkan kualitas produksinya dari film ke film.

Lihat data film ini di filmindonesia.or.id.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates