Wednesday, January 27, 2016

The Jose Flash Review
The 5th Wave

Satu lagi novel young adult dystopian yang diangkat ke layar lebar dengan harapan menjadi franchise sukses seperti halnya The Hunger Games, Divergent, dan The Maze Runner. Masih dengan formula yang tak jauh-jauh dari survival adventure dengan bumbu romantis, The 5th Wave diangkat dari novel berjudul sama karya Rick Yancey yang mendapatkan banyak review positif. Bahkan dinobatkan sebagai salah satu buku young-adult terbaik tahun 2013 oleh The New York Times dan finalis Best Young Adult Fantasy or Science Fiction novel tahun 2013 versi Goodreads. Tentu prestasi ini membuat studio besar berebut hak cipta untuk diangkat ke layar lebar. Yang beruntung mendapatkannya adalah Sony Pictures di bawah bendera Material Pictures yang dipegang oleh Tobey Maguire dan GK Films milik Graham King. Tentu saja hadirnya buku kedua, The Infinite Sea yang rilis tahun 2014 dengan review yang tak kalah bagusnya, serta seri pamungkas, The Last Star, yang direncanakan rilis Mei 2016 ini, membuat Sony berharap T5W bisa jadi tambang emas franchise baru mereka. Dengan naskah adaptasi dikerjakan oleh Susannah Grant, Akiva Goldsman, dan Jeff Pinkner yang sudah sangat berpengalaman menulis naskah karya-karya blockbuster, sementara bangku sutradara dipercayakan kepada J Blakeson yang tergolong pendatang baru dengan filmografi masih minim, tentu T5W sebenarnya menjadi tawaran yang menarik.

Hidup Cassie Sullivan sebagai gadis SMA yang cantik namun tidak terlalu populer berubah ketika mendapati kotanya diserang oleh benda asing yang tiba-tiba muncul di langit. Menurut berita, alien menyerang bumi dalam lima tahap. Tahap pertama sampai keempat sudah dilalui seluruh dunia, yang menyisakan hanya segelintir penyintas. Termasuk kedua orang tua Cassie. Berdua bersama sang adik, Sam, Cassie mengembara ke sana kemari hingga sampai di camp penyintas. Pihak militer di bawah komando Kolonel Vosch menjanjikan sebuah tempat aman untuk para penyintas yang masih anak-anak. Sebuah kejadian menyebabkan Sam terbawa ke tempat tersebut, sementara Cassie tertinggal. Cassie pun bertualang melewati jalan-jalan sepi dengan bahaya mengintai sewaktu-waktu menuju lokasi aman tersebut. Dengan bantuan Evan Walker yang ditemuinya di tengah jalan, siapa sangka mereka menemukan kenyataan di luar dugaan ketika sampai di tempat yang diklaim paling aman tersebut.

Sejak menit awal, saya merasakan formula yang sangat sangat familiar dari genre sejenis. Saya pun dengan mudah membaca dan menebak arah cerita. Ada  nuansa I Am Legend yang mungkin pengaruh dari penulis naskah  Akiva Goldsman, tapi secara garis besar tetap saja rasa teenage-nya yang paling dominan. Tapi jangan salah, dibandingkan adaptasi young adult dystopian sebelumnya, T5W bisa dibilang menduduki posisi terbawah. Saya melihat ada beberapa penyebab. Yang paling pertama adalah kurangnya inovasi dari formula-formula yang sudah sangat generik. Kedua, alih-alih membuat karakter-karakternya terasa menarik, T5W lebih berfokus pada kronologis cerita (yang statusnya sudah sangat cliché itu!). Chemistry antara Cassie dan Evan (apalagi Cassie dan Ben) tidak dikembangkan dengan cukup untuk membuatnya convincing. Satu-satunya yang menarik dari cerita mungkin hanya twist yang meskipun sebenarnya sudah bisa terbaca sejak awal, tapi harus saya akui menarik. Namun segera setelah revealing moment, T5W ditutup dengan jauh dari kata memuaskan, apalagi mengesankan. Tidak ada adegan petualangan maupun pertarungan yang berkesan, selain serangan di awal film yang cukup mencengangkan selama beberapa detik. Tak ada pula dialog-dialog menarik. Ditangani dengan penyutradaraan yang datar dan ala kadarnya pula. T5W tak terasa punya greget sama sekali, di aspek mana pun, baik drama, romance, thriller, maupun adventure.

Chloë Grace Moretz adalah salah satu aktris muda yang paling bersinar saat ini. Maka dipasangnya sebagai lead seharusnya bisa dengan mudah jadi daya tarik bagi penonton film blockbuster maupun film serius. Dan yah, di sini Moretz memang cukup kuat menjadi lead (dibanding cast yang lain) meski Cassie yang kita lihat di layar ditulis sebagai just another teenage girl. Tak seberkesan Katniss atau Tris. Di lini lead actor ada Alex Roe yang untungnya diberi adegan yang bisa berkesan untuk penonton sehingga porsinya sebagai pendamping lead actress bisa sedikit di atas yang lain. Meski lagi-lagi, dibandingkan peran yang sama di film sejenis lainnya, masih kalah daya tarik. Nick Robinson yang baru saja kita lihat di Jurassic World, sebagai Ben Parish, tak buruk namun perlu porsi yang jauh lebih banyak lagi (jika ada sekuelnya kelak) untuk menjadi karakter berkesan. Karakter lain yang ingin saya lihat lebih banyak porsinya ke depan adalah Ringer yang diperankan Maika Monroe. Aktris muda yang kita kenal lewat The Bling Ring dan It Follows ini bakal kita lihat lagi di sekuel Independence Day, Resurgence. Sementara di lini aktor yang lebih senior, ada Liev Schreiber sebagai Colonel Vosch dan Maria Bello sebagai Sergeant Reznik yang terasa paling menonjol.

I have to say tak ada yang begitu istimewa di teknis, baik dari segi sinematografi dari Enrique Chediak yang cukup untuk bercerita namun kurang untuk membuat adegan-adegan serunya berkesan, maupun editing Paul Rubell atau score gubahan Henry Jackman. Special FX lumayan untuk adegan serangan The Others namun tak terlalu istimewa pula dengan detail yang tidak terlalu menonjol. Tata suara cukup terdengar dahsyat dengan bass yang cukup dalam dan pembagian kanal surround yang cukup terasa. Terakhir, theme song Alive dari Sia di credit title menjadi salah satu yang menonjol dari T5W.

Overall, presentasi T5W memang masih jauh di bawah pesaing di genre sejenis. Bukannya berinovasi dalam hal bercerita, misalnya dengan penggambaran karakter-karakter yang menarik (yang biasanya berhasil menyelamatkan banyak film-film formulaic), ia memilih untuk ikut-ikutan yang sudah ada, tapi dengan penggarapan yang serba asal ada. Mulai naskah sampai penyutradaraan yang standard. Dengan penghasilan domestik opening weekend yang ‘hanya’ US$ 10 juta, Sony Pictures kayaknya harus berpikir berkali-kali untuk melanjutkan installment-installment berikutnya. 

Lihat data film ini di IMDb.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates