Sweet 20

Tatjana Saphira to perform young Niniek L. Karim in South Korea's hit remake.
Read more.

Jailangkung

Rizal Mantovani and Jose Poernomo to pass-on the Jailangkung mythology.
Read more.

Surat Kecil untuk Tuhan

Bunga Citra Lestari starred in a child-abuse awareness tearjerker based on Agnes Davonar's best seller novel series.
Read more.

Spider-Man Homecoming

Make ways for the brand new Peter Parker to return to MCU.
Opens July 5.

Transformers: The Last Knight

Michael Bay to put the dino-bots back to the world for another mission.
Read more.

Saturday, March 31, 2018

Review Film menurut ViJo
(Read this first to understand The Jose Movie Review)

The Jose Movie Review
Entah sejak kapan saya mulai menulis review film-film yang pernah saya tonton. Kalau tidak salah sejak jaman Friendster mungkin yah. Waktu itu saya menggunakan fitur “Review”. Lantas ketika Facebook merebak, saya menggunakan fasilitas “Notes”. Enaknya, di “Notes” Facebook saya punya space lebih banyak untuk menjabarkan apa yang ada di otak saya tentang film-film yang saya tonton. Banyak yang suka dan rajin membacanya, tapi tentu saja ada juga yang membencinya dan menganggap saya sok pintar serta sok tahu soal film. Keadaan itu memuncak ketika saya mengkritik orang-orang yang segitu tergila-gilanya dengan 2012 dan Twilight Saga. Bahkan ada teman dekat yang lantas mengunfollow Twitter saya gara-gara saya mengatakan Twilight Saga sebagai film ababil. What??? What’s happened to these people??? But that’s okay, banyak juga koq yang mendukung saya untuk menuliskan buah-buah pikiran saya tersebut. “Biarin lah, setiap orang berhak punya opini,” begitu hibur mereka.
Yes, he’s right! Tiap orang berhak punya opini! Kenapa saya tidak boleh punya opini bahwa Transformers dan Twilight Saga adalah film sampah, sementara mereka yang mengatas-namakan penonton mayoritas merasa fine-fine saja mencaci maki film semacam Watchmen dan film-film berkelas Oscar hanya dengan alasan “membosankan”? Padahal jelas-jelas di setiap review, saya menyertakan argumen yang kuat dan objektif kenapa saya menyukai atau tidak menyukai suatu film. Sekarang siapa sih yang sok pintar? Siapa sih yang shallow?
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, July 20, 2017

The Jose Flash Review
Let's Go Jets
[チア☆ダン
女子高生がチアダンスで全米制覇しちゃったホントの話]

Di antara genre sport, tema cheerleader agaknya masih tergolong jarang diangkat. Bisa jadi hanya Bring It On judul yang bisa diingat dengan mudah. Selain tema yang jarang, ia juga berhasil menjadi sajian yang memorable dan punya daya binge-watch yang cukup tinggi. Tahun 2017, sinema Jepang mencoba ‘menantang’ dominasi Bring It On. Film bertajuk Let’s Go Jets! (LGJ) ini diangkat dari kisah nyata tim cheerleader asal kota kecil di Jepang, Fukui, Jets, yang secara megejutkan memenangkan kompetisi internasional di Amerika Serikat tahun 2009. Disutradarai oleh Hayato Kawai (dikenal lewat berbagai mini seri TV seperti Kurosaki-kun no Iinari ni Nante Naranai, Oniichan, gacha, dan Ani ni aisaresugite komattemasu), naskahnya disusun oleh Tamio Hayashi (The Eternal Zero, Prophecy), LGJ mempertemukan kembali aktris muda, Suzu Hirose (Our Little Sister), dan aktor muda, Mackenyu (upcoming Pacific Rim: Uprising), setelah franchise Chihayafuru. Didukung pula oleh Yûki Amami (pengisi suara Granmamare, sang peri laut di animasi Studio Ghibli, Ponyo) dan bintang-bintang muda, seperti Ayami Nakajo, Hirona Yamazaki, dan Miu Tomita.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Jagga Jasoos
[जग्गा जासूस]


Di sinema Hindi, nama Anurag Basu termasuk salah satu sutradara yang disegani. Tak hanya punya kualitas di atas rata-rata, tapi juga tak jarang menjadi box office, baik di rumah sendiri maupun secara internasional. Di antaranya yang paling populer, Kites dan Barfi!. Persembahan terbaru darinya adalah sebuah perpaduan unik antara kisah detektif a la Tintin dengan treatment musikal khas sinema Hindi. Proyek lanjutan antara Anurag dan Ranbir setelah Barfi! bertajuk Jagga Jasoos (JJ - Inggris: Detective Jagga) ini sebenarnya sudah dipersiapkan sejak tahun 2013, tapi perjalanan produksinya jauh dari kata mulus. Mulai faktor keretakan hubungan asmara antara kedua pemeran utamanya, Ranbir Kapoor dan Katrina Kaif, hingga peran ayah Jagga yang awalnya (bahkan sempat menjalani syuting) diperankan Govinda akhirnya diganti oleh Saswata Chatterjee (Kahaani). Banyaknya lokasi syuting yang digunakan, mulai Daarjeling, Thailand, Moroko, hingga Cape Town, Afrika Selatan, turut mempengaruhi lamanya proses pengambilan gambar. Jadwal tayang yang sedianya diset 2015, lalu mundur menjadi November 2016, dan akhirnya Juli 2017, termasuk proses re-shot beberapa adegan.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, July 19, 2017

The Jose Flash Review
Mr. Hurt
[มิสเตอร์เฮิร์ท
มือวางอันดับเจ็บ]

Patah hati dan susah move on memang masih merupakan fenomena asmara universal di belahan dunia mana pun. Begitu juga di ranah film yang bahkan sudah punya formula tersendiri di balik treatment dan resolusi masing-masing. Sajian terbaru datang dari sinema Thai yang dikenal sering menarik dalam mengemas genre romantic comedy, Mr. Hurt. Naskahnya ditulis dan disutradarai oleh Ittisak Eusunthornwattana yang baru menelurkan The Rooms tahun 2014 silam, Mr. Hurt mempercayakan peran utama kepada Sunny Suwanmethanon yang populer berkat I Fine… Thank You Love You, didukung bintang TV, iklan, dan model, Marie Broenner, Mashannoad Suvalmas (sebelumnya juga dikenal sebagai model), dan aktor 4bia, Phobia 2, ATM: Er Rak Error, dan Pee Mak, Pongstaorn Jongwilak.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, July 18, 2017

The Jose Flash Review
Baywatch


Adalah hal yang wajar, bahkan hampir bisa selalu dipastikan bahwa serial TV akan diangkat ke layar lebar. Tinggal waktu saja yang menentukan. Setelah Mission: Impossible, The Avengers, Charlie’s Angels, The A Team, Miami Vice, dan masih banyak lagi, tahun 2017 menjadi giliran Baywatch yang bertandang ke bioskop. Serial yang disiarkan sebanyak 11 season sejak 1989 ini menjadi salah satu ikon pertelevisian dunia di era 90-an. Tergolong kelewat lama untuk brand sebesar Baywatch, tapi justru ini merupakan kesempatan untuk membuat fans lama bernostalgia sekaligus menjaring fans baru. Pemeran-pemeran aslinya jelas tak mungkin muncul kembali sebagai karakter-karakter ikonik mereka, tapi bukan berarti tak dianggap begitu saja. Baywatch versi layar lebar memasang aktor-aktris masa kini yang cukup mewakili karakteristik karakter-karakter aslinya, seperti Dwayne ‘The Rock’ Johnson sebagai Mitch Buchannon, Zac Efron sebagai Matt Brody, Alexandra Daddario sebagai Summer Quinn, Kelly Rohrbach sebagi CJ Parker, dan Ilfenesh Hadera sebagai Stephanie Holden. Superstar Bollywood yang juga mantan Miss World 2000, Priyanka Chopra, pun turut digandeng untuk menyemarakkan film.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, July 14, 2017

The Jose Flash Review
Despicable Me 3


Tak mudah menciptakan sebuah franchise baru yang sukses mengusung karakter-karakter ikonik berusia panjang. Beruntung, Illumination Entertainment, studio animasi milik Universal Pictures di bawah Chris Meledandri yang berdiri sejak 2007 lalu menelurkan franchise Despicable Me (DM) di tahun 2010. Tak ada yang menyangka proyek animasi berbudget US$ 69 juta ini akan sukses mengumpulkan US$ 546.1 juta di seluruh dunia (menurut Box Office Mojo). Kesuksesan finansial terus meningkat dengan Despicable Me 2 tahun 2013 (mengumpulkan US$ 975.8 juta) dan spin-off Minions tahun 2015 (mengumpulkan US$ 1.167 milyar), meninggalkan produksi animasi-animasi mereka lainnya, seperti Hop, Dr. Seuss’ The Lorax, The Secret Life of Pets, dan Sing.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, July 13, 2017

The Jose Flash Review
Filosofi Kopi The Movie 2:
Ben & Jody


Sebagai salah satu negara penghasil sekaligus supplier kopi terbesar di dunia (nomor 4, menurut WorldAtlas), layak jika Indonesia mengangkatnya dalam sebuah karya audio-visual. Filosofi Kopi The Movie (FKTM) yang diangkat dari cerpen karya Dewi Lestari dan dirilis tahun 2015 lalu berhasil menjadikan ‘kopi’ tak hanya sebagai latar belakang kisah persahabatan dan asmara, tapi juga menjadikannya filosofi yang berhubungan erat dengan kehidupan manusia. Karena potensi pengembangan kisah yang cukup besar, Visinema selaku produsen mengadakan sayembara penulisan premise kelanjutan kisah Ben & Jody, dua karakter utamanya. Hasilnya kemudian ‘diracik’ oleh tim penulis naskah dari film pertamanya, Angga Dwimas Sasongko sendiri (yang juga merangkap sutradara dan produser eksekutif), Jenny Jusuf, ditambah M. Irfan Ramly yang pernah terlibat penulisan naskah Cahaya dari Timur: Beta Maluku dan Surat dari Praha, produksi Visinema juga. Duo karakter utamanya masih diisi oleh Chicco Jerikho dan Rio Dewanto, dengan penambahan Luna Maya, Nadine Alexandra, serta sederetan cameo yang turut menyemarakkan sekuel bertajuk Filosofi Kopi The Movie 2: Ben & Jody (B&J).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Mom

Di tengah kemunculan aktor-aktris berbakat generasi baru di sinema Hindi, nama Sridevi yang dikenal sebagai aktris legendaris sejak kemunculan pertama kalinya di era 60-an masih punya daya tarik yang kuat dan dihormati berbagai pihak. Tak hanya penonton dan penggemar, tapi juga sineas dan aktor-aktris senior lainnya. Apalagi Sridevi dikenal cukup pilih-pilih peran. Terakhir kita dibuat terpesona lewat penampilannya di English Vinglish tahun 2012 silam. Kali ini ia muncul di genre thriller yang masih tergolong jarang di sinema Hindi, Mom. Di bawah arahan sutradara Ravi Udyawar yang mana ini merupakan debut penyutradaraannya (sebelumnya dikenal sebagai pelukis, illustrator, dan sutradara music video - TheHindu), dan dari naskah penulis novel best-seller tahun 2012, Marathon Baba, Mom menandai film Sridevi ke-300. Didukung pula oleh Nawazuddin Siddiqui, Akshaye Khanna, bintang Pakistan, Sajal Ali dan Adnan Siddiqui, Abhimanyu Singh, dan Vikas Verma.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, July 6, 2017

The Jose Flash Review
The Crucifixion

Salah satu tema di genre horror yang akhirnya berkembang menjadi sub-genre adalah exorcism atau pengusiran setan. Tentu tema exorcism mau tak mau lekat dengan unsur reliji yang menjadi core-nya. Ada cukup banyak contoh judul film yang memberikan kontribusi penting di sub-genre tersebut. Bisa karena memberikan informasi-informasi baru seputar ritual exorcism, baik yang merupakan fakta maupun fiktif, atau karena pencapaian style visual yang ‘berani’. Selain The Exorcist (1973) dan franchise-nya yang menjadi ‘bapak dari segala film exorcism’, masih ada The Exorcism of Emily Rose (2005), Drag Me to Hell (2009), hingga yang menurut saya cukup inovatif dari segi informasi maupun visual style, Deliver Us from Evil (2014). The Crucifixion yang ditayangkan perdana di Screamfest Film Festival, Los Angeles, Oktober 2016 lalu ini sempat menjadi bahan pembicaraan penggemar horror. Betapa tidak, nama-nama di belakang-nya cukup menjanjikan. Mulai sutradara asal Perancis, Xavier Gens (segmen X is for XXL di antologi The ABC’s of Death, Frontier(s), dan pernah dipercaya untuk menangani Hitman versi tahun 2007), duo penulis naskah, Chad dan Carey Hayes (keduanya dikenal sebagai penulis naskah House of Wax versi tahun 2005, The Reaping, Whiteout, dan duologi The Conjuring), hingga Javier Botet (aktor di balik sosok-sosok ‘halus’ di Mama, The Conjuring 2, The Other Side of the Door, Alien: Covenant, hingga The Mummy versi 2017 barusan) di salah satu jajaran cast. Masih ditambah pemanfaatan kultur dan setting Romania yang punya eksotisme tersendiri, apalagi fakta bahwa Romania adalah negara asal cikal-bakal legenda Dracula yang kita kenal selama ini. Meski tergolong indie dan bahkan sampai tulisan ini diturunkan masih belum menentukan jadwal tayang di Amerika Serikat, The Crucifixion telah berhasil mengundang rasa penasaran para pecinta horror di seluruh dunia. Apalagi selepas merilis trailer perdananya. Beruntung Indonesia menjadi negara pertama yang berkesempatan menyaksikannya secara umum.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, June 27, 2017

The Jose Flash Review
Insya Allah Sah

Hari Raya Lebaran tak afdol rasanya tanpa film yang punya nafas Islami tapi juga bisa dinikmati oleh penonton umum. Maka komedi menjadi medium yang pas untuk ‘berdakwah’ kepada golongan tertentu sekaligus menghibur golongan yang lebih luas. MD Pictures mempersembahkan Insya Allah Sah (IAS) yang diangkat dari novel karya Achi TM (seorang penulis skenario sinetron dan FTV yang sudah menulis 22 novel tapi baru IAS yang diterbitkan oleh penerbit sebesar Gramedia Pustaka Utama) berjudul sama yang diterbitkan pertama kali tahun 2015. Novel yang konon ditulis sebagai upaya terakhir sebelum sempat memutuskan pensiun dari kepenulisan ini segera dikontrak oleh MD untuk diangkat ke layar lebar. Meski akhirnya baru 2017 ini benar-benar diproduksi di bawah penanganan Benni Setiawan (Bukan Cinta Biasa, 3 Hati 2 Dunia 1 Cinta, Toba Dreams, Love and Faith) selaku sutradara dan penulis naskah adaptasi, dengan dukungan Titi Kamal, Pandji Pragiwaksono, Richard Kyle, dan puluhan cameo yang tersebar di sepanjang film.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Surat Kecil untuk Tuhan [2017]

Selain horror, rupanya tema yang selalu mendapatkan tempat di hati penonton Indonesia adalah drama yang menguras air mata. Tak heran jika tahun 2011 lalu, Surat Kecil untuk Tuhan (SKuT) yang diangkat dari novel karya Agnes Davonar mencetak box office dengan perolehan 748.842 penonton. Speaking of tear-jerking, Agnes Davonar bisa dikatakan sebagai penulis paling piawai di tema tersebut. Tercatat sudah cukup banyak karya mereka berdua (ya, Agnes Davonar adalah nama pena untuk duo kakak-beradik, Agnes Li dan Teddy Li) yang diangkat ke layar lebar. Mulai SKuT, Gaby dan Lagunya, Ayah, Mengapa Aku Berbeda?, My Blackberry Girlfriend, My Idiot Brother, Sebuah Lagu untuk Tuhan, dan Bidadari Terakhir. Kerap mengeksploitasi penyakit sebagai tear-jerker, tak menyurutkan antusiasme pembaca dan penonton untuk mengikuti tiap kisah yang ditelurkan. Turut menyemarakkan Hari Raya Lebaran tahun 2017 ini, Falcon Pictures yang dikenal sebagai pencetak box office beberapa tahun terakhir, mencoba mengangkat ‘formula’ khas Agnes Davonar dengan judul yang sama, Surat Kecil untuk Tuhan (versi tahun 2011 di LSF terdaftar sebagai Surat Kecil untuk Tuhan (SKuT), sementara versi 2017 sebagai Surat Kecil untuk Tuhan saja), tapi dengan materi cerita yang sama sekali berbeda.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates