The Battleship Island

Hwang Jung-min, Song Joong-Ki, and So Ji-sub fought to reach freedom from the hellish Hashima Island.
Read more.

War for the Planet of the Apes

How the war with the apes will end? Read more.
Read more.

Valerian and the City of A Thousand Planets

Luc Besson to bring the classic sci-fi graphic novel to silver screen with Dane DeHaan, Cara Delevigne, and... Rihanna!
Read more.

Atomic Blonde

Charlize Theron portraying a cold bad-ass chick in Berlin Wall era.
Read more.

A: Aku, Benci, dan Cinta

Jefri Nichol, Amanda Rawles, Indah Permatasari, and Brandon Salim in a high school romance comedy.
Opens August 16.

Saturday, March 31, 2018

Review Film menurut ViJo
(Read this first to understand The Jose Movie Review)

The Jose Movie Review
Entah sejak kapan saya mulai menulis review film-film yang pernah saya tonton. Kalau tidak salah sejak jaman Friendster mungkin yah. Waktu itu saya menggunakan fitur “Review”. Lantas ketika Facebook merebak, saya menggunakan fasilitas “Notes”. Enaknya, di “Notes” Facebook saya punya space lebih banyak untuk menjabarkan apa yang ada di otak saya tentang film-film yang saya tonton. Banyak yang suka dan rajin membacanya, tapi tentu saja ada juga yang membencinya dan menganggap saya sok pintar serta sok tahu soal film. Keadaan itu memuncak ketika saya mengkritik orang-orang yang segitu tergila-gilanya dengan 2012 dan Twilight Saga. Bahkan ada teman dekat yang lantas mengunfollow Twitter saya gara-gara saya mengatakan Twilight Saga sebagai film ababil. What??? What’s happened to these people??? But that’s okay, banyak juga koq yang mendukung saya untuk menuliskan buah-buah pikiran saya tersebut. “Biarin lah, setiap orang berhak punya opini,” begitu hibur mereka.
Yes, he’s right! Tiap orang berhak punya opini! Kenapa saya tidak boleh punya opini bahwa Transformers dan Twilight Saga adalah film sampah, sementara mereka yang mengatas-namakan penonton mayoritas merasa fine-fine saja mencaci maki film semacam Watchmen dan film-film berkelas Oscar hanya dengan alasan “membosankan”? Padahal jelas-jelas di setiap review, saya menyertakan argumen yang kuat dan objektif kenapa saya menyukai atau tidak menyukai suatu film. Sekarang siapa sih yang sok pintar? Siapa sih yang shallow?
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, March 15, 2018

The Jose Event Review
Sensasi Benar-Benar
Dikelilingi Adegan Film
di Format ScreenX

Pengalaman sinematik terus-terusan mengalami perkembangan dengan berbagai varian yang menawarkan pengalaman lebih. Setelah 3D, IMAX, Sphere X, 4DX, dan Starium, satu format lagi yang turut memberikan semakin banyak pilihan format bagi penonton Indonesia; Screen X. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, August 18, 2017

The Jose Flash Review
The Underdogs

Mau tak mau harus diakui bahwa media sosial menjadi fenomena sosial yang paling besar dewasa ini. Media sosial lah yang menggeser makna dan sistem popularitas menjadi lebih umum, tak lagi soal bakat saja. Salah satu yang pengaruhnya adalah YouTube yang membuat semua orang bisa punya channel sendiri berisi aksi pribadi masing-masing hingga membentuk profesi baru; YouTuber. Sinema Indonesia sudah pernah mengangkat tema ini lewat Youtubers tahun 2015 silam dengan menggandeng berbagai YouTuber betulan, seperti da Lopez Bersaudara. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Atomic Blonde

Dunia tak akan pernah cukup melahirkan tokoh-tokoh jagoan baru di film, tak terkecuali bergender wanita yang harus diakui punya daya tarik tersendiri. Setelah ‘era kejayaan’ Angelina Jolie yang pernah menjelma menjadi sosok Lara Croft, Evelyn Salt, Mrs. Smith, dan Fox (Wanted) dan di era ini ada Scarlett Johansson (Black Widow di Marvel Cinematic Universe, Lucy, dan Major (Ghost in the Shell), aktris asal Afrika Selatan, Charlize Theron pun tak mau ketinggalan kembali mengambil peran kick-ass heroine pasca Æon Flux dan Furiosa di Mad Max: Fury Road. Kesempatan terbaru ini berasal dari sutradara David Leitch, yang sebelumnya bertindak sebagai stuntman, stunt coordinator, sekaligus fight choreographer dari film-film blockbuster seperti Fight Club, Mr. & Mrs. Smith, X-Men Origins: Wolverine, The Bourne Legacy, dan pernah dipercaya menyutradarai beberapa adegan di John Wick, film pendek Deadpool: No Good Dead, dan upcoming, Deadpool 2. Naskahnya disusun oleh Kurt Johnstad (300, Act of Valor, dan 300: Rise of an Empire) berdasarkan novel grafis The Coldest City keluaran Oni Press karya Antony Johnston dan Sam Hart. Didukung James McAvoy, John Goodman, Toby Jones, Sofia Boutella, hingga aktor Jerman yang sering main di film Hollywood, Til Schweiger, Atomic Blonde (AB) yang merupakan kisah espionage ini berpotensi berkembang menjadi franchise baru setara John Wick.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, August 15, 2017

The Jose Flash Review
The Battleship Island
[군함도]

Perang Dunia II adalah peristiwa sejarah dunia yang bisa dikatakan terbesar hingga saat ini. Tentu ada banyak kisah yang bisa diangkat, baik dari sudut pandang tokoh-tokoh populer yang punya pengaruh besar terhadap arah sejarah maupun manusia-manusia biasa dengan kesederhanaannya. Tak hanya dari sudut pandang Sekutu (Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan negara-negara anggota lainnya), Jerman, ataupun Jepang yang memang menjadi negara-negara pion utama dari PD II, tapi juga negara-negara lain yang menjadi ‘korban’. Terutama di Asia; Cina dan Korea. Sinema Korea Selatan yang sudah semakin mumpuni, bahkan semakin lama semaki ambisius, akhirnya ikut meramaikan ‘bursa’ PD II lewat salah satu era kelam dalam sejarah Korea; 400 orang Korea yang dijanjikan kehidupan yang lebih baik ternyata dikirim ke Pulau Hashima dan dipaksa bekerja sebagai buruh pertambangan batu bara milik Jepang. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, August 13, 2017

The Jose Flash Review
The Emoji Movie

Saat ini smartphone mungkin sudah menjadi salah satu kebutuhan pokok manusia. Meski tetap saja ada tingkatan-tingkatan ‘ada harga ada rupa’, setidaknya fungsi-fungsi dasar smartphone sudah bisa dinikmati bukan lagi sebagai barang mahal. Saking smart-nya, mungkin tak sedikit yang bertanya-tanya seperti apa sih kinerja di balik kecerdasan fungsional mereka. Tony Leondis (story artist dari The Lion King 2: Simba’s Pride, The Prince of Egypt, dan Home on the Range yang pernah dipercaya untuk menyutradarai animasi Lilo & Stitch 2: Stitch Has a Glitch dan Igor) mencoba untuk menjelaskan kinerja di balik smartphone, terutama salah satu elemen paling populernya, emoji, secara imajinatif. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
The Hunter's Prayer

Penggabungan action thriller dengan drama lewat mengulik sisi emosional dari sosok yang identik dengan dingin dan kejam seperti yang pernah dilakukan oleh Léon: The Professional (1994) dan Terminator 2: Judgment Day (1991) bisa jadi paduan yang menghibur sekaligus menyentuh. Formula serupa coba dihadirkan sekali lagi oleh Jonathan Mostow yang pernah dipercaya menggarap Breakdown, U-571, Terminator 3: Rise of the Machines, dan Surrogates. Naskah film bertajuk The Hunter’s Prayer (THP) yang diadaptasi John Brancato dan Michael Ferris (keduanya bekerja sama menyusun naskah The Net, The Game, Terminator 3 & Salvation, serta Surrogates) ini berasal dari novel For the Dogs karya Kevin Wignall yang dirilis tahun 2004. Dengan membawa nama-nama populer di jajaran cast, seperti Sam Worthington (Terminator Salvation, James Cameron’s Avatar) dan bintang muda yang karir aktingnya kian mengkilat setelah The Odd Life of Timothy Green, The Giver, serta Goosebumps, Odeya Rush, THP punya daya tarik yang cukup mengundang rasa penasaran.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, August 12, 2017

The Jose Flash Review
Annabelle: Creation

Reputasi James Wan sebagai produser spesialis horror jaminan mutu semakin terkukuhkan dengan lahirnya The Conjuring Universe. Terbukti ‘pancingan’ sosok-sosok horror ikonik yang ia sebar di dua installment The Conjuring (dan rupanya masih akan terus berlanjut) begitu diminati, bahkan dengan antusiasme tinggi oleh penggemar sekaligus penonton umum di seluruh dunia. Diawali dengan spin-off pertama, Annabelle (2014) yang meski lebih banyak mendapatkan review negatif tapi berhasil mengumpulkan US$ 256.9 juta di seluruh dunia dengan budget ‘hanya’ US$ 6.5 juta. Tentu ini membuat New Line Cinema, Warner Bros., dan James Wan sendiri selaku produser, percaya diri untuk ‘menebus’ seri Annabelle dengan follow-up. Gary Dauberman yang kembali ditunjuk menyusun naskahnya memilih untuk mengembangkan prekuel bertajuk Annabelle: Creation (AC) dengan setting country (pedesaan) Amerika Serikat era ’50-an. Ini bisa jadi sedikit penyegaran setelah mengambil setting suburban dan country Amerika Serikat, serta suburban Inggris era ’70-an. Bangku sutradara dioper ke David F. Sandberg yang sukses mengangkat film pendek fenomenalnya, Lights Out ke layar lebar dan menarik perhatian Wan. Di deretan cast, ada Stephanie Sigman yang pernah kita lihat di Spectre, Miss Bala, dan terakhir belum lama ini, Once Upon a Time in Venice, Anthony LaPaglia, Miranda Otto, dan si cilik yang ‘keranjingan’ bermain di film horror, Lulu Wilson (Ouija: Origin of Evil).
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Sunday, August 6, 2017

The Jose Flash Review
Jab Harry Met Sejal
[जब हैरी मेट सेजल]

Bekerja sama dengan sang raja, Shah Rukh Khan (SRK), mungkin sudah menjadi pencapaian tersendiri bagi sineas di tanah Hindustani. Setelah sekian tahun dan sekian kali belum berjodoh, Imtiaz Ali (Jab We Met, Love Aaj Kal, Rockstar, Highway, dan Tamasha) akhirnya menemukan peran yang pas untuk SRK. Berpasangan kembali dengan Anushka Sharma setelah Rab Ne Bana De Jodi, Jab Tak Hai Jaan, dan Ae Dil Hai Mushkil (di sini keduanya tak dipasangkan. SRK pun hanya menjadi cameo), kisah asmara bertajuk Jab Harry Met Sejal (JHMS) ini bukanlah remake dari komedi romantis legendaris, When Harry Met Sally. Judul tersebut hanyalah atribut sebagai penghormatan semata, sementara plot dan tema yang diusung jauh berbeda. Imtiaz sendiri sempat mengubah konsep awal yang mengangkat pria yang hendak bunuh diri menjadi lebih ceria dan berwarna. Tentu saja star power sebesar SRK tak boleh kelewat membuat fanbase raksasa yang tersebar di seluruh penjuru dunia kecewa, bukan?
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Once Upon a Time in Venice

Meski image-nya lebih kuat sebagai aktor laga, Bruce Willis sebenarnya tak jarang juga mengambil peran-peran komedi. Sebut saja The Whole Nine Yards, The Bandits, dan Cop Out. Toh ternyata ia cukup luwes juga mengisi peran-peran komedi. Setelah Cop Out, Willis kembali menerima tawaran Mark Cullen (penulis naskah Cop Out) untuk tampil di Once Upon a Time in Venice (OUTV). Nama Mark Cullen dan Robb Cullen sebenarnya cukup punya reputasi bagus, terutama karena nominasi Emmy Awards untuk serial Lucky yang mereka ciptakan. Aktor-aktor pendukung OUTV pun cukup menjanjikan. Mulai dari Jason Momoa (Aquaman di upcoming DC’s Justice League dan Aquaman), John Goodman, Thomas Middleditch, Famke Janssen, hingga Adam Goldberg. Dengan premise detektif dengan bumbu komedi dan latar tropis Venice, OUTV sebenarnya berpotensi menjadi sajian yang menghibur.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Mars Met Venus
[Part Cowo]


Setelah beberapa minggu sebelumnya Mars Met Venus: Part Cewe (PCe) dirilis dan ternyata mendapat sambutan penonton yang sangat baik (sudah melewati angka 200 ribu penonton di minggu ketiga penayangannya!), giliran Part Cowo (PCo) mencoba menyajikan perspektif berbeda dari materi cerita yang sama.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates