Black Panther

The new king of Wakanda to fight for the rest of the world.
Read more.

Eiffel I'm in Love 2

What will Adit and Tita be after 12 years of long distance relationship?
Opens Feb 14.

The Post

Spielberg, Hanks, Streep team up to shake down the goverment through press.
Opens Feb 21.

Dilan 1990

Iqbaal Ramadhan to portray Pidibaiq's most popular novel character.
Read more.

Maze Runner: The Death Cure

Thomas and friends to break into The Last City, the WCKD-controlled labyrinth as their final effort of adventure.
Read more.

Saturday, March 31, 2018

Review Film menurut ViJo
(Read this first to understand The Jose Movie Review)

The Jose Movie Review
Entah sejak kapan saya mulai menulis review film-film yang pernah saya tonton. Kalau tidak salah sejak jaman Friendster mungkin yah. Waktu itu saya menggunakan fitur “Review”. Lantas ketika Facebook merebak, saya menggunakan fasilitas “Notes”. Enaknya, di “Notes” Facebook saya punya space lebih banyak untuk menjabarkan apa yang ada di otak saya tentang film-film yang saya tonton. Banyak yang suka dan rajin membacanya, tapi tentu saja ada juga yang membencinya dan menganggap saya sok pintar serta sok tahu soal film. Keadaan itu memuncak ketika saya mengkritik orang-orang yang segitu tergila-gilanya dengan 2012 dan Twilight Saga. Bahkan ada teman dekat yang lantas mengunfollow Twitter saya gara-gara saya mengatakan Twilight Saga sebagai film ababil. What??? What’s happened to these people??? But that’s okay, banyak juga koq yang mendukung saya untuk menuliskan buah-buah pikiran saya tersebut. “Biarin lah, setiap orang berhak punya opini,” begitu hibur mereka.
Yes, he’s right! Tiap orang berhak punya opini! Kenapa saya tidak boleh punya opini bahwa Transformers dan Twilight Saga adalah film sampah, sementara mereka yang mengatas-namakan penonton mayoritas merasa fine-fine saja mencaci maki film semacam Watchmen dan film-film berkelas Oscar hanya dengan alasan “membosankan”? Padahal jelas-jelas di setiap review, saya menyertakan argumen yang kuat dan objektif kenapa saya menyukai atau tidak menyukai suatu film. Sekarang siapa sih yang sok pintar? Siapa sih yang shallow?
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, March 15, 2018

The Jose Event Review
Sensasi Benar-Benar
Dikelilingi Adegan Film
di Format ScreenX

Pengalaman sinematik terus-terusan mengalami perkembangan dengan berbagai varian yang menawarkan pengalaman lebih. Setelah 3D, IMAX, Sphere X, 4DX, dan Starium, satu format lagi yang turut memberikan semakin banyak pilihan format bagi penonton Indonesia; Screen X. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, February 13, 2018

The Jose Flash Review
Black Panther

Meski sudah tampil sejak pertama kali tahun 1966 di komik Fantastic Four Vol. 1 issue 52, rupanya jalan Black Panther untuk mendapatkan film layar lebar sendiri cukup panjang. Sempat ada rencana tahun 1992 dengan bintang Wesley Snipes (bahkan sebelum namanya identik dengan karakter Blade), tapi tak pernah benar-benar membuahkan hasil berarti, kemudian sempat diumumkan sebagai salah satu dari sepuluh film Marvel yang dikembangkan ketika masih bersama Paramount Pictures tahun 2005. Baru ketika MCU (Marvel Cinematic Universe) benar-benar terbangun dengan solid, ia mendapatkan lampu hijau untuk punya film sendiri. Tentu saja setelah perkenalan di Captain America: Civil War (2016) yang bertujuan memperkenalkan sang pangeran Wakanda sehingga tak sulit untuk mempromosikan film berdiri sendirinya kelak. Ini merupakan salah satu bukti bagaimana di tangan Disney, MCU sudah didesain dan direncanakan dengan begitu matang serta solid. Sebagaimana film-film ‘tunggal’ MCU lainnya, Black Panther (BP) pun menawarkan keunikan gaya tersendiri. Apalagi dengan isu diversity yang semakin gencar didengungkan di negara asalnya dan juga seluruh dunia, membuatnya terasa dirilis pada era yang tepat untuk menemukan relevansinya. Ryan Coogler (Fruitvale Station, Creed) jelas pilihan yang tak main-main untuk dipercayakan di bangku penyutradaraan dan penyusun naskah, bersama Joe Robert Cole (dua episode American Crime Story: O.J. Simpson) yang juga membuktikan keseriusan Marvel Studios menggarap MCU sesuai dengan relevansi isu global yang seolah menjadi misi Disney secara keseluruhan beberapa tahun terakhir lewat karya-karyanya.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, February 3, 2018

The Jose Flash Review
Hoax

Lahir dari film-film indie membuat seorang Ifa Isfansyah tak serta-merta berhenti menggarap film-film indie yang idealis di tengah perjalanan karirnya sebagai sutradara film-film komersial. Tahun 2012 lalu ia sempat menggarap Rumah dan Musim Hujan, sebuah omnibus multi genre, racikan antara drama keluarga, thriller, dan mistis. Jajaran cast pendukungnya tak main-main. Ada Tora Sudiro, Vino G. Bastian, Tara Basro, Jajang C. Noer, Aulia Sarah, Permata Sari Harahap, dan Landung Simatupang. Baru sempat diputar di Jogja-NETPAC Asian Film Festival tahun 2012, International Film Festival Rotterdam 2013 silam, dan beberapa festival film internasional lainnya, butuh enam tahun bagi Rumah dan Musim Hujan untuk bisa diputar untuk umum secara luas di jaringan-jaringan bioskop Indonesia. Itu pun dengan versi sunting ulang yang dimaksudkan agar lebih relevan dengan penonton saat ini dan menyesuaikan dengan ketentuan-ketentuan Lembaga Sensor Film yang akhir-akhir ini sedikit lebih sensitif, termasuk untuk urusan judul yang juga ikut menyesuaikan isu kekinian, Hoax.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, February 2, 2018

The Jose Flash Review
Downsizing

Tema mengkerdilkan tubuh manusia selama ini lebih sering diangkat sebagai fantasi semata, seperti misalnya di The Incredible Shrinking Woman, Honey, I Shrunk the Kids atau serial kartun Doraemon. Atau film-film bertemakan manusia-manusia kerdil seperti The Borrowers dan Gulliver’s Travels. Mungkin pemikiran kenapa tidak mengaplikasikan ide cemerlang ini ke dalam konteks realita kondisi sosial global saat ini lah yang terbersit dalam benak Alexander Payne (Sideways, The Descendants, Nebraska) lewat Downsizing. Sebuah perpaduan antara drama sosial, romansa, fiksi ilmiah, filosofi hidup, dan sedikit bumbu komedi witty khas Payne. Tak tanggung-tanggung, ada aktor sekaliber Matt Damon, Christoph Waltz, Kristen Wiig, Udo Kier, Rolf LassgÃ¥rd, hingga aktris asal Thailand yang diganjar nominasi Golden Globe untuk kategori Aktris Pendukung Terbaik, Hong Chau, digaet untuk mengisi ‘panggung fantasi’ Payne kali ini. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, January 27, 2018

The Jose Flash Review
Dilan 1990

Setelah memulai debut penyutradaraan di Baracas: Barisan Anti Cinta Asmara tahun 2017 lalu, Pidi Baiq tahun ini berkesempatan untuk mengangkat novel terlarisnya, Dilan 1990 ke layar lebar dengan bantuan dari Titien Wattimena di naskah dan Fajar Bustomi di penyutradaraan. Sempat menuai kontroversi ketika Iqbaal Ramadhan dipilih untuk memerankan sosok Dilan, tapi proyek terus berjalan hingga akhirnya siap menyapa para penggemarnya di layar lebar. Didukung pendatang baru Vanesha Prescilla yang menjanjikan, Giulio Parengkuan, Debo Andrios ‘ex Idola Cilik’, Brandon Salim, Refal Hady, Zara JKT48, Happy Salma, Ira Wibowo, Farhan, dan Teuku Rifnu Wikana, Dilan 1990 masih terlihat menjanjikan sajian yang menarik. Tak hanya bagi penonton remaja saat ini tapi juga mereka yang pernah mengalami masa remaja di era ’90-an.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, January 24, 2018

The Jose Flash Review
Maze Runner: The Death Cure

Trend film yang diadaptasi dari novel young-adult dystopian satu per satu berakhir. Setelah The Hunger Games yang dianggap paling sukses secara pendapatan box office dan Divergent yang bernasib kurang baik setelah terakhir dikabarkan seri terakhirnya akan dibuat hanya untuk konsumsi televisi (disusul aktris utama, Shailene Woodley yang menyatakan mundur dengan keputusan ini), kini tinggal tersisa Maze Runner (MR) yang meski installment kedua, The Scorch Trial (TST) mengalami sedikit penurunan penghasilan, masih bisa dianggap stabil di atas US$ 300 juta. Maka installment pamungkas, The Death Cure (TDC) masih dengan mudah mendapatkan lampu hijau dari Gotham Group, Temple Hill Entertainment, TSG Entertainment, dan tentu saja 20th Century Fox selaku distributor. Berjarak rilis paling lama dari seri terakhir (3 tahun), TDC awalnya sempat dijadwalkan rilis Februari 2017 tapi harus mengalami kemunduran selama setahun setelah aktor utama, Dylan O’Brien mengalami cidera fisik ketika pengambilan gambar. Setidaknya keputusan tetap menjadikan seri terakhir sebagai satu film saja, tak mengikuti trend yang memecahnya menjadi dua bagian, merupakan keputusan bijak dari sutradara Wes Ball mengingat pergerakan plot di dua seri sebelumnya yang sebenarnya sudah terasa terseok-seok. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, January 18, 2018

The Jose Flash Review
Darkest Hour

Ada alasan mengapa Sir Winston Churchill menjadi salah satu tokoh dunia paling penting di era Perang Dunia II. Selain menjabat sebagai Perdana Menteri Inggris yang kontroversi pada masanya, beliau juga yang membawa Inggris memenangkan Perang Dunia II melawan NAZI Jerman. Jika pertengahan 2017 lalu kita disuguhi kisah penyelamatan tentara Sekutu bersandi Operation Dynamo di film karya Christopher Nolan, Dunkirk, maka kali ini penonton diajak mengenal tokoh yang bertanggung jawab di balik operasi penyelamatan tersebut. Diperankan oleh salah satu aktor paling versatile tapi jarang mendapatkan rekoknisi yang layak, Gary Oldman, kisah Sir Winston Churchill versi Joe Wright (Pride & Prejudice, Atonement, The Soloist, Hanna, Anna Karenina, Pan) ini disusun oleh penulis naskah Anthony McCarten (The Theory of Everything). Lily James, Kristin Scott Thomas, dan Ben Mandelsohn turut mendukung performa prima Oldman yang baru saja diganjar piala Golden Globe pertamanya lewat film bertajuk Darkest Hour (DH) ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, January 17, 2018

The Jose Flash Review
All the Money in the World

Ridley Scott dikenal sebagai sutradara Hollywood yang versatile dalam berkarya. Sulit untuk menemukan benang merah kekhasan dari garapannya tapi kerapkali berhasil menghantarkan tujuan-tujuannya. Mulai sci-fi macam Blade Runner atau Alien, thriller seperti Hannibal, drama periode seperti Gladiator, Kingdom of Heaven, Robin Hood, dan Exodus: Gods and Kings, perang macam Black Hawk Down, biopik seperti American Gangster, hingga drama seperti Thelma & Louise, Matchstick Men, dan A Good Year. Tahun 2017 silam beliau tergolong produktif dengan merilis dua film sekaligus. Setelah Alien: Covenant, All the Money in the World (AtMintW) yang diangkat dari kisah nyata sosok orang Amerika paling kaya, pelopor bisnis minyak di Timur Tengah, J. Paul Getty, berdasarkan buku biografi berjudul Painfully Rich: The Outrageous Fortunes and Misfortunes of the Heirs of J. Paul Getty karya John Pearson, siap berkompetisi di musim penghargaan dengan jajaran cast papan atas seperti Michelle Williams, Mark Wahlberg, dan Timothy Hutton. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, January 16, 2018

The Jose Flash Review
The Commuter

Meski sempat buka suara yang menimbulkan spekulasi akan rencana pensiun dari film aksi, Liam Neeson tampaknya masih bersemangat untuk beraksi di layar lebar. Di usianya yang sudah menjelang 66 tahun, kiprah action hero-nya tergolong terlambat, yaitu sejak film aksi ikonik, Taken (2008) setelah puluhan tahun lebih memilih sebagai aktor watak. Namun Neeson agaknya tidak mau membuang-buang masa keemasan sebagai action hero. Berturut-turut ada The A-Team, Unknown, The Grey, Non-Stop, A Walk Among the Tombstones, Run All Night, serta dua sekuel Taken. Di awal 2018 ini pun ia menggebrak lagi lewat The Commuter yang menandai kolaborasi keempatnya bersama sutradara Jaume Collet-Serra setelah Unknown, Non-Stop, dan Run All Night. Naskahnya disusun bersama Byron Willinger, Philip de Blasi, dan Ryan Engle (Non-Stop dan upcoming, Rampage), Liam Neeson didampingi oleh Vera Farmiga (The Conjuring), Patrick Wilson (Insidious dan The Conjuring), serta Sam Neill (Jurassic Park). Dari trailer dan materi-materi promosinya, The Commuter yang sudah didevelop sejak tahun 2010 ini menjanjikan aksi-aksi seru khas Neeson dengan bumbu thriller misteri yang bikin penasaran.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Monday, January 15, 2018

The Jose Flash Review
Insidious: The Last Key

Insidious bisa jadi bukti yang paling valid bahwa film horor murah bisa menghasilkan pendapatan box office yang luar biasa besar. Dimulai tahun 2011 sebagai film horor indie berbudget ‘hanya’ US$ 1.5 juta tapi berhasil meraup US$ 97 juta lebih di seluruh dunia, ia segera berkembang menjadi franchise dengan penghasilan yang kian meningkat. Insidious: Chapter 2 yang dirilis tahun 2013 meraup US$ 161.9 juta dari budget US$ 5 juta saja dan Insidious: Chapter 3 pada tahun 2015 masih mampu mengumpulkan US$ 113 juta di seluruh dunia dari budget sekitar US$ 10 juta. Tak perlu waktu lama untuk terus melanjutkan franchise ini sebagaimana The Conjuring yang juga sama-sama menjadi pemimpin pasar franchise horor berbudget rendah di era 2010-an ini. Insidious: The Last Key (ITLK) yang awalnya direncanakan rilis pada Oktober 2017 harus menerima kemunduran perilisan 5 Januari 2018 yang termasuk masa-masa sepi persaingan. Entah strategi apa yang dilancarkan, tapi terbukti sekali lagi ITLK sukses besar memimpin box office di berbagai negara, termasuk Indonesia yang notabene penggemar berat horor. Naskah ITLK masih disusun oleh Leigh Whannell sementara bangku sutradara dipercayakan kepada Adam Robitel yang pernah cukup memukau pecinta horor lewat The Taking of Deborah Logan dan menuyusun naskah Paranormal Activity: The Ghost Dimension. Karakter ikonik Elise Rainier kembali diperankan oleh Lin Shaye, begitu pula dengan kedua ‘anak buahnya’, Specs yang diperankan Leigh Whannell sendiri dan Tucker yang masih diisi oleh Angus Sampson.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates