Deadpool 2

Deadpool to face his long time love-hate relationship with Cable.
Read more.

Solo: A Star Wars Story

Young Han Solo to be the lates Star Wars' side story.
Opens May 23.

Rampage

Dwayne 'The Rock' Johnson to tame his beloved silver gorilla gone wild.
Read more.

The Avengers: Infinity War

The Avengers gank to face the almighty, Thanos.
Read now.

Truth or Dare

What if the game truth or dare could be so deadly?.
Read more.

Saturday, March 16, 2019

Review Film menurut ViJo
(Read this first to understand The Jose Movie Review)

The Jose Movie Review
Entah sejak kapan saya mulai menulis review film-film yang pernah saya tonton. Kalau tidak salah sejak jaman Friendster mungkin yah. Waktu itu saya menggunakan fitur “Review”. Lantas ketika Facebook merebak, saya menggunakan fasilitas “Notes”. Enaknya, di “Notes” Facebook saya punya space lebih banyak untuk menjabarkan apa yang ada di otak saya tentang film-film yang saya tonton. Banyak yang suka dan rajin membacanya, tapi tentu saja ada juga yang membencinya dan menganggap saya sok pintar serta sok tahu soal film. Keadaan itu memuncak ketika saya mengkritik orang-orang yang segitu tergila-gilanya dengan 2012 dan Twilight Saga. Bahkan ada teman dekat yang lantas mengunfollow Twitter saya gara-gara saya mengatakan Twilight Saga sebagai film ababil. What??? What’s happened to these people??? But that’s okay, banyak juga koq yang mendukung saya untuk menuliskan buah-buah pikiran saya tersebut. “Biarin lah, setiap orang berhak punya opini,” begitu hibur mereka.
Yes, he’s right! Tiap orang berhak punya opini! Kenapa saya tidak boleh punya opini bahwa Transformers dan Twilight Saga adalah film sampah, sementara mereka yang mengatas-namakan penonton mayoritas merasa fine-fine saja mencaci maki film semacam Watchmen dan film-film berkelas Oscar hanya dengan alasan “membosankan”? Padahal jelas-jelas di setiap review, saya menyertakan argumen yang kuat dan objektif kenapa saya menyukai atau tidak menyukai suatu film. Sekarang siapa sih yang sok pintar? Siapa sih yang shallow?
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Friday, March 15, 2019

The Jose Event Review
Sensasi Benar-Benar
Dikelilingi Adegan Film
di Format ScreenX

Pengalaman sinematik terus-terusan mengalami perkembangan dengan berbagai varian yang menawarkan pengalaman lebih. Setelah 3D, IMAX, Sphere X, 4DX, dan Starium, satu format lagi yang turut memberikan semakin banyak pilihan format bagi penonton Indonesia; Screen X. 
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Thursday, May 17, 2018

The Jose Flash Review
Anon

Fiksi ilmiah yang memberikan gambaran kondisi dunia di masa depan dengan berbagai teknologi canggih dan konsep tatanan sosial memang selalu menarik untuk disimak. Selain fantasi sejauh mana teknologi bisa dicapai juga kondisi sosial yang bisa jadi bahan refleksi dan/atau kontemplasi pribadi. Namun tak semua konsep fiksi ilmiah futuristik yang menarik (bahkan brilian) bisa diterjemahkan dalam bahasa visual (baca: film) dengan baik. Sudah cukup banyak contoh film fiksi ilmiah futuristik yang ‘terjerumus’ ke dalam lembah ini. Salah satu yang paling saya ingat adalah Transcendence (2014), sebuah fiksi ilmiah dimana seorang ilmuwan bisa menggabungkan kecerdasan kolektif dari semua yang pernah ada dengan emosi manusia. Tema yang brilian tapi ditangani dengan skill directing Wally Pfister yang masih teramat sangat kurang, membuatnya menjadi drama sci-fi membosankan dan memusingkan karena kebingungan sendiri bagaimana menyampaikan dan mengakhiri kisahnya. Tahun ini satu lagi fiksi ilmiah futuristik menarik dipersembahkan oleh Andrew Niccol yang selama ini kita kenal lewat karya-karya fiksi ilmiah seperti Gattaca, S1m0ne, In Time, dan The Host. Beberapa memang berhasil menjadi karya fiksi ilmiah klasik tapi juga tak sedikit yang dikenal sebagai film fiksi ilmiah membosankan dan bahkan buruk. Niccol kembali bekerja sama dengan sinematografer berdarah Iran, Amir Mokri (Bad Boys II, Vantage Point, Fast & Furious, franchise Transformers sejak Dark of the Moon, dan Man of Steel) setelah Lord of War dan Good Kill. Begitu juga dengan aktris Amanda Seyfried yang kembali digandeng setelah di In Time untuk mendampingi Clive Owen. Tayang eksklusif di Netflix, film bertajuk Anon ini berkesempatan tayang terbatas di layar lebar beberapa negara, termasuk Indonesia.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Wednesday, May 16, 2018

The Jose Flash Review
Deadpool 2

Kesuksesan Deadpool (2016) yang berhasil mengumpulkan US$ 783.1 juta di seluruh dunia di balik kenekadannya sebagai film superhero (atau anti-hero?) dengan rating R (Restricted - di bawah usia 17 tahun harus dengan dampingan orang tua karena mengandung banyak muatan khusus dewasa) tentu saja membuat rencana sekuelnya dengan mudah mendapatkan lampu hijau. Sayang di saat nyaris semua tim utama setuju untuk kembali, termasuk penyusun naskah Rhett Reese dan Paul Wernick, di tengah-tengah pengembangan sutradara Tim Miller mengundurkan diri (gosipnya sih karena banyak terjadi perbedaan pendapat dengan Ryan Reynolds). Sebagai penggantinya masuklah David Leitch, stuntman yang beruntung dipercaya (sekaligus berhasil) menyutradarai John Wick dan Atomic Blonde. Tentu saja sekuel film superhero menampilkan musuh baru dan karakter-karakter superhero baru. Namun Deadpool 2 (D2) ternyata menawarkan lebih dari sekedar formula dasar sekuel film superhero tersebut.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, May 15, 2018

The Jose Flash Review
Status Update

Salah satu formula paling generik dari genre remaja adalah ‘wish come true’ dan ‘be yourself’. Bisa dimaklumi mengingat masa remaja adalah masa dimana selalu mengharapkan semua keinginan yang menyenangkan bisa terwujud dengan mudah, juga konflik yang paling sering terjadi adalah pencarian jati diri. Sisanya tinggal modifikasi menyesuaikan dengan kondisi jaman. Formula yang sama juga digunakan untuk film remaja Status Update (SU) yang disutradarai oleh Scott Speer (sutradara berbagai video musik yang mulai dikenal di layar lebar lewat Step Up Revolution dan baru saja kita lihat karya terbarunya, Midnight Sun) berdasarkan naskah Jason Filardi (Bringing Down the House, 17 Again). Didukung para mantan bintang Disney Channel; Ross Lynch, Olivia Holt, Gregg Sulkin, SU menawarkan formula-formula dasar film remaja tersebut dengan kemasan fantasi dari media sosial yang menjadi highlight terbesar fenomena kekinian.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Raazi

Meski selalu diwarnai oleh kontroversi dan pemboikotan, perang antara India dan Pakistan selalu menjadi tema yang menarik di sinema Hindi. Jangankan yang terang-terangan bertema perang India-Pakistan, tampilnya aktor atau aktris Pakistan di sinema Hindi saja selalu menjadi kontroversi. Maka apa yang dihadirkan Junglee Pictures dan Dharma Productions lewat Raazi bisa dikatakan sebagai suatu langkah yang sangat berani. Diangkat dari novel bertajuk Calling Sehmat karya Harinder Sikka yang juga diinspirasi oleh kejadian nyata, Raazi mempercayakan karakter utamanya yang seorang mata-mata India di tanah Pakistan diisi oleh aktris muda yang mulai populer sejak Student of the Year, Alia Bhatt. Vicky Kaushal ynag pernah kita lihat di Bombay Velvet, Masaan, dan Raman Raghav 2.0 dipasangkan dengan Bhatt sebagai sang suami, Iqbal Syed. Sementara bangku penyutradaraan diduduki oleh Meghna Gulzar, sutradara wanita yang juga merupakan putri dari penulis lirik, Gulzar. Meghna sendiri tahun 2015 lalu pernah sukses mengarahkan film investigasi pembunuhan, Talvar. Dengan pengalaman dan nama-nama tersebut, Raazi terdengar sebagai sajian thriller espionase yang menjanjikan.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Saturday, May 12, 2018

The Jose Special Review
The Gift:
Reza dan Ayushita Memaknai Rasa Melampaui Panca Indra

Empat belas tahun berkarir di perfilman nasional dan telah melahirkan puluhan judul film dari berbagai genre membuat reputasi seorang Hanung Bramantyo sebagai sineas masuk dalam daftar jajaran teratas film Indonesia. Setelah menangani berbagai proyek besar dan ambisius beberapa tahun terakhir, ada sedikit kerinduan akan karya idealis orisinil dari seorang Hanung yang sederhana tapi terasa ‘sangat Hanung’. Saya rasa kerinduan ini tak hanya berasal dari pecinta film Indonesia yang sudah sekian lama mengikuti perjalanan karirnya, tapi juga dari Hanung sendiri. Maka The Gift agaknya lahir dari kerinduan tersebut. Didukung aktor-aktris papan atas Indonesia, Reza Rahadian, Ayushita Nugraha, Dion Wiyoko, dan Christine Hakim, The Gift sempat diputar di Jogja-Netpac Asian Films Festival 2017 lalu. Namun penonton umum di seluruh Nusantara bisa menyaksikannya di bioskop-bioskop komersial mulai 24 Mei 2018. Sambil menantikan filmnya rilis, ada baiknya terlebih dahulu menyimak trailer berdurasi 2 menit ini agar setidaknya punya gambaran tema dan daya tarik apa yang ditawarkan Hanung di film yang bekerja sama dengan Seven Sunday Films ini.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

Tuesday, May 8, 2018

The Jose Flash Review
Based on a True Story
[D'après une histoire vraie]

Kehidupan penulis novel, terutama dalam proses kreatifnya, serta hubungan antara penulis dan penggemarnya sudah beberapa kali diangkat ke layar lebar. Bagi penonton umum tentu akan selalu mengingat film yang diangkat dari novel karya Stephen Kings, Misery (1990) dengan menghadirkan penampilan dari James Caan dan Kathy Bates. Tahun 2017 penulis naskah/sutradara Roman Polanski (Rosemary’s Baby, Chinatown, The Pianist, Carnage) bekerja sama dengan Olivier Assayas (Demonlover, Something in the Air, Clouds of Sils Maria, Personal Shopper) mengadaptasi naskah sebuah novel thriller psikologis karya Delphine de Vigan berjudul D'après une histoire vraie atau dengan judul internasional Based on a True Story (BoaTS). Roman kembali menggandeng sang istri, Emmanuelle Seigner, untuk mengisi peran utama yang mana ini merupakan kali kelima keduanya berkolaborasi sejai Frantic (1988). Didukung pula aktris Perancis yang selama tiga belas tahun terakhir sibuk berkarir di Hollywood, Eva Green untuk mengisi peran pendukung. Tak hanya itu, nama besar Alexandre Desplat didapuk untuk menggarap komposisi musik, sinematografer Pawel Edelman untuk keenam kalinya setelah The Pianist, Oliver Twist, The Ghost Writer, Carnage, dan Venus in Fur, serta editor Margot Meynier setelah berkolaborasi bersama di The Pianist, Oliver Twist, an Venus in Fur. Nama-nama kolaborator yang tentu menambah daya tarik penonton, terutama pengagum Roman Polanski dan sinema Eropa. Kita di Indonesia beruntung bisa menyaksikannya sebagai bagian dari Europe on Screen 2018 dan tayang di bioskop komersial umum pertengahan Mei 2018.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Ghost Stories

Jeremy Dyson selama ini dikenal sebagai penulis naskah untuk serial Inggris Psychobitches dan The League of Gentlemen. Ia juga pernah populer lewat kolaborasinya bersama Andy Nyman (dikenal lewat acara ilusionis Derren Brown) untuk pertunjukan drama panggung bertajuk Ghost Stories (GS) yang tak hanya sukses dipentaskan selama bertahun-tahun sejak 2010 di Inggris tapi juga merambah Australia. Drama panggung ini kemudian diadaptasi menjadi film layar lebar bertajuk sama oleh Dyson-Nyman sendiri dan rata-rata mendapatkan tanggapan positif dari para kritikus. Kita di Indonesia beruntung mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan salah satu fenomena horor Inggris terbesar era 2000-an ini di layar lebar melalui distributor CBI Pictures mulai 9 Mei 2018.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
102 Not Out

Amitabh Bachchan dan Rishi Kapoor sama-sama merupakan aktor legendaris di tanah Hindustan. Bagaimana tidak, sama-sama memulai karir akting sejak era ’70-an, punya daftar filmografi yang panjang, dan masih eksis hingga kini. Kini keduanya disatukan kembali dalam satu layar (sebelumnya di Ajooba tahun 1991) lewat peran yang keduanya sama-sama unik. Amitabh yang berusia asli 75 tahun memerankan pria berusia 102 tahun, sementara Rishi yang aslinya 65 tahun memerankan sang putra yang berusia 75 tahun. Film unik bertajuk 102 Not Out (102NO) ini merupakan karya debut layar lebar dari penulis puisi, Saumya Joshi, yang mana ini merupakan adaptasi dari drama panggung sukses karyanya sendiri berjudul sama, dan disutradarai oleh Umesh Shukla (OMG: Oh My God!). Sebelum jatuh ke tangan Rishi, perannya tersebut sebenarnya akan diperankan aktor Paresh Rawal tapi kemudian mengundurkan diri karena kesibukannya setelah terpilih sebagai anggota parlemen India dari partai Bharatiya Janata Party asal Lok Sabha. Namun menurut saya Rishi adalah pilihan yang jauh lebih tepat dalam membawakan peran tersebut. Apalagi status kelegendarisan Rishi yang jelas menaikkan daya tarik 102NO.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

The Jose Flash Review
Truth or Dare


Jason Blum lewat bendera Blumhouse terus mewujudkan berbagai ide-ide horor/thriller liar dengan budget kecil tapi berhasil mencetak angka box office berlipat-lipat. Sebut saja Insidious, Sinister, The Purge, Get Out, dan Happy Death Day. Upaya terbarunya adalah Truth or Dare (ToD). Berawal dari ide Jeff Wadlow (Cry Wolf, Prey, Kick-Ass 2) yang langsung mendapatkan lampu hijau produksi dari Jason Blum setelah hanya mem-pitch judul dan adegan pembuka, ToD memadukan permainan klasik ‘truth or dare’ dengan elemen horor supranatural ala Final Destination dan Wishmaster (terakhir elemen serupa digunakan juga oleh Wish Upon). Perpaduan yang cukup menarik bukan? Apalagi sudah lama kita tidak dibuat tegang oleh perburuan malaikat maut yang bisa terjadi kapan saja seperti di Final Destination. Naskahnya disusun Wadlow bersama Christopher Roach (Non-Stop), Michael Reisz (serial Boston Legal dan Shadowhunters: The Mortal Instruments), dan Jillian Jacobs, ToD didukung performa dari bintang-bintang muda seperti Lucy Hale yang kita kenal lewat Scream 4, Tyler Posey dari serial Teen Wolf, Violett Beane dari serial The Flash, dan Nolan Gerard Funk dari serial Glee dan Arrow.
Rate film ini menurut Anda:
{[['']]}

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates